Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Indonesia bergerak cepat dalam melakukan akselerasi eliminasi penyakit terkait Human Papillomavirus (HPV). Melalui langkah strategis terbaru pada tahun 2026, implementasi perluasan sasaran program imunisasi HPV pada anak laki-laki usia 11 tahun yang dilakukan secara bertahap di beberapa propinsi salah satunya Daerah istimewa Yogyakarta. Sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kkapasitas tenaga kesehatan dalam memahami infeksi HPV diselenggarakan Edukasi Kesehatan bertajuk “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki” yang berlangsung secara hybrid pada Selasa, 23 Juni 2026 dengan sasaran seluruh programmer imunisasi dari 121 puskesmas di DIY serta 5 Dinas Kesehatan Kabupaten Kota yang mengikuti secara luring di Hotel Marriot Yogyakarta, serta diikuti lintas program dan tenaga medis maupun tenaga kesehatan lainnya secara daring.
Upaya perluasan ini sekaligus menjadi momentum penting untuk mengubah paradigma publik. Selama ini, pemahaman masyarakat cenderung menganggap bahwa infeksi HPV dan vaksinnya hanya dikhususkan bagi perempuan untuk pencegahan kanker serviks semata. Padahal, fakta ilmiah menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam sesi materi, para pakar mengupas tuntas mengenai urgensi pemberian perlindungan yang setara bagi anak laki-laki, yang dirangkum ke dalam tiga poin utama:
- Risiko Nyata pada Laki-Laki: Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) menjelaskan bahwa infeksi HPV memengaruhi kedua gender. Pada laki-laki, virus DNA ini dapat menyebabkan kutil kelamin (anogenital), prakanker, serta berbagai jenis kanker mematikan seperti kanker anus, genital, hingga kanker orofaring.
- Tidak Ada Skrining Rutin: Berbeda dengan perempuan yang bisa mendeteksi kanker serviks lebih dini lewat Pap test, sejauh ini belum ada metode skrining rutin untuk mendeteksi kanker terkait HPV pada penis, anus, maupun kepala dan leher laki-laki. Oleh karena itu, imunisasi menjadi satu-satunya tameng pencegahan yang paling efektif.
- Transmisi Lebih Tinggi: Bergantung pada studi penularan terbaru, transmisi virus dari perempuan ke laki-laki justru tercatat lebih tinggi. Dengan demikian, menghadirkan strategi vaksinasi netral gender (Gender-Neutral Vaccination) terbukti memberikan imunitas kelompok (herd immunity) yang jauh lebih kokoh di tengah masyarakat.
Selain edukasi mengenai risiko penyakit, pertemuan ini juga secara khusus membedah berbagai kekhawatiran orang tua terkait isu keamanan vaksin. Untuk meluruskan persepsi yang keliru, berikut adalah tabel rangguman mitos vs fakta ilmiah seputar vaksin HPV:
| Mitos Terpopuler | Fakta Berbasis Bukti Ilmiah |
| Vaksin HPV menyebabkan kemandulan. | SALAH. Studi klinis global (WHO & CDC) menegaskan tidak ada dampak negatif terhadap kesuburan atau parameter sperma pria. Justru vaksin ini melindungi kualitas hidup organ reproduksi dari kutil kelamin. |
| Vaksin HPV bisa memicu infeksi HPV. | SALAH. Vaksin ini bersifat inaktif dan terbuat dari Virus-Like Particle (VLP) yang tidak mengandung material genetik (DNA), sehingga tidak infeksius dan tidak memicu kanker. |
| Mengandung unsur logam aluminium berbahaya. | SALAH. Zat ajuvan AAHS yang digunakan berfungsi aman untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh, sama seperti yang digunakan pada jenis vaksin massal lainnya. |
| Mendorong perilaku seks dini. | SALAH. Vaksin diberikan murni sebagai proteksi medis jangka panjang sejak dini (usia 9-14 tahun) sebelum anak terpapar virus di masa depan. |
Melengkapi data keamanan di atas, para orang tua di Indonesia kini juga tidak perlu ragu mengenai kehalalan vaksin ini. Produk vaksin HPV quadrivalen yang digunakan dalam program pemerintah telah resmi mengantongi Sertifikat Halal dari BPJPH dan MUI sejak November 2025, di mana seluruh proses pembuatannya dipastikan tidak bersinggungan dengan bahan yang mengandung babi.
Langkah preventif ini sejalan dengan komitmen jangka panjang pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan anak bangsa. Sesuai dengan peta jalan Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030, pemerintah saat ini menerapkan kebijakan pemberian 1 dosis vaksin HPV bagi anak usia praremaja (kelas 5 SD/sederajat). Kebijakan ini mengacu pada rekomendasi SAGE dan KIN yang menyatakan efikasi satu dosis sudah sebanding dengan dua dosis. Selanjutnya, saat memasuki Tahap 2 (2028-2030), pemberian vaksin HPV secara rutin kepada anak laki-laki usia 11 tahun akan terus diperluas secara nasional termasuk juga pemberian imunisasi kejar demi memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dari perlindungan virus berbahaya ini.





