Beranda / Daerah / Satu Dekade DIY–Victoria, Seni Menyatukan Dua Bangsa

Satu Dekade DIY–Victoria, Seni Menyatukan Dua Bangsa

Sleman,REDAKSI17.COMSepuluh tahun lalu, DIY dan Victoria dipertemukan oleh musik. Kini, kerja sama itu telah melahirkan lebih dari sekadar konser dan pelatihan, tetapi juga persahabatan lintas negara, ruang tumbuh bagi talenta muda, serta pemahaman budaya yang kian mendalam. Momentum tersebut dirayakan dalam Welcome Dinner Youth Music Camp Melbourne Symphony Orchestra (MSO) 2026 di Ballroom Hyatt Regency Yogyakarta, Sleman, Senin (13/07) malam.

Hadir Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo beserta jajaran manajemen dan instruktur MSO, perwakilan Victoria Government Trade and Investment, kepala organisasi perangkat daerah Pemda DIY, instruktur lokal, serta peserta Youth Music Camp dan Art Management Workshop.

Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, kerja sama antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Melbourne Symphony Orchestra telah berkembang menjadi wadah pengembangan talenta kebudayaan yang strategis. Program ini membuka jalan bagi lahirnya musisi orkestra muda dan pengelola seni pertunjukan yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.

“Melalui tema A Decade: A Deeper Understanding, kami ingin merefleksikan bagaimana kedua pihak semakin saling memahami budaya satu sama lain. Kami juga berharap para musisi muda dapat menemukan makna yang lebih dalam dari laku seni sebagai jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik,” ujar Ni Made.

Menurutnya, kemitraan tersebut terus berkembang, tidak hanya melalui pelatihan musik berstandar internasional, tetapi juga melalui Arts Management Workshop yang mendorong lahirnya berbagai inisiatif kreatif. Salah satu hasil nyatanya adalah pagelaran “Ruwat Ruwet” yang diwujudkan melalui pendampingan tim MSO dan Dinas Kebudayaan DIY.

Penguatan kolaborasi tahun ini juga ditandai dengan kehadiran komposer Australia Thomas Green yang berbagi pengalaman dan perspektif kreatif kepada para komposer muda di Yogyakarta. Pertukaran gagasan tersebut memperkaya ekosistem seni sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas budaya.

Suasana malam itu semakin semarak dengan penampilan dalang cilik asal Yogyakarta, Arby Ersani Widyaputra, yang membawakan lakon Pandawa Kumpul. Penampilan Arby mendapat perhatian para tamu dari Australia dan menjadi gambaran bagaimana Yogyakarta terus merawat sekaligus memperkenalkan warisan budayanya kepada dunia melalui generasi muda.

Kehadiran wayang menjadi bagian dari upaya Pemda DIY menjadikan konser kolaborasi bersama MSO sebagai pembuka rangkaian Perayaan Warisan Dunia 2026. Wayang yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003 dipadukan dengan musik orkestra sebagai pertemuan antara tradisi dan ekspresi seni kontemporer.

Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra Suzanne Dembo mengatakan konser kolaborasi pada 16 Juli 2026 di Auditorium Universitas Sanata Dharma akan menjadi puncak perayaan kemitraan antara MSO dan Dinas Kebudayaan DIY.

“Melalui tema A Decade: A Deeper Understanding, kami ingin merayakan perjalanan kolaborasi ini sekaligus menunjukkan bagaimana seni dapat memperdalam pemahaman budaya dan menginspirasi setiap individu menjadi manusia yang lebih baik,” kata Suzanne.

Konser tersebut akan menampilkan 25 peserta Youth Music Camp hasil seleksi dari 89 pendaftar bersama para musisi MSO. Penonton juga akan menyaksikan world premiere karya kolaborasi Vishnu Satyagraha dan Thomas Green berjudul Dharma yang dipadukan dengan pertunjukan wayang oleh Fani Rickyansah. Sejumlah alumni program MSO, seperti Raden Dwiyatama Darmasakti, Yosef Yudha Prasetya, dan Shelia Sanjaya, turut mengambil peran dalam penyelenggaraan konser.

Selain pelatihan musik, program tahun ini juga menghadirkan Art Management Workshop yang diikuti 25 peserta terpilih dari 73 pendaftar. Dua peserta terbaik dari kedua program akan memperoleh kesempatan magang di Melbourne Symphony Orchestra, sementara proposal terbaik akan difasilitasi Dinas Kebudayaan DIY untuk direalisasikan pada 2027.

Kemitraan DIY dan Victoria membuktikan bahwa diplomasi budaya dapat tumbuh dari ruang-ruang kreatif, mulai dari latihan musik, kelas manajemen seni, hingga panggung pertunjukan. Bukan sekadar kolaborasi seni, kerja sama ini telah menjadi jembatan persahabatan yang mempertemukan generasi muda, melahirkan talenta-talenta baru, serta memperkuat pemahaman budaya antara Indonesia dan Australia. Seni tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membuka ruang dialog dan kolaborasi yang memberi manfaat bagi kedua belah pihak. 

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *