Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada perdagangan Senin (20/7). Kenaikan harga ini utamanya didorong oleh dua sentimen yakni konflik Amerika Serikat (AS) melawan Iran dan meningkatnya aktivitas Militan Houti di Yaman.
Melansir CNBC, Selasa (21/7/2026), harga minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global naik 1,3% dan ditutup di level US$ 89,22 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% dan ditutup pada US$ 83,23 per barel.
Secara keseluruhan harga minyak mentah dunia telah melonjak sekitar 20% sepanjang bulan ini seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah, baik perang AS-Iran maupun perlawanan Militan Houti terhadap Arab Saudi.
Untuk diketahui, tensi antara AS dengan Iran kian memanas terlebih setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan Teheran akan menerima konsekuensi atas tewasnya tiga personel militer Negeri Paman Sam.
“Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu!” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
“Arahan ini telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan, Pete Hegseth; Ketua Kepala Staf Gabungan, Daniel Caine: dan setiap Pemimpin di Militer,” sambungnya.
Pernyataan ini sempat membuat harga minyak Brent melonjak hampir 4% hingga tembus US$ 90 per barel. Meski kenaikan harga itu sedikit mereda setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan negosiasi dengan AS masih bisa dilakukan selama sejalan dengan kepentingan nasional Teheran.
Kemudian sentimen penguatan harga minyak juga datang dari sekutu Houthi Iran di Yaman yang mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Embargo ini dinilai bisa memperburuk gangguan pasukan minyak dunia.
Kelompok Houthi juga kembali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan pasar global.
Masalah belakangan ini Arab Saudi telah mengalihkan jutaan barel minyak per hari ke jaringan pipa menuju terminal ekspor di Laut Merah. Jalur tersebut merupakan alternatif penting untuk menjaga pasokan minyak dunia di tengah perang antara AS dan Iran.





