Washington,REDAKSI17.COM – Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara AS pada Minggu (26/7). Penghentian sementara serangan tersebut terjadi di tengah munculnya laporan mengenai kekhawatiran menipisnya amunisi sehingga menahan rencana eskalasi lebih lanjut.
Dirangkum detikcom, Minggu (26/7/2026), Trump sebelumnya dilaporkan sedang ancang-ancang untuk melancarkan serangan besar-besaran terbaru terhadap Iran. Skala operasi militer AS ke Iran ini disebut akan lebih besar dari serangan selama Operation Epic Fury.
Dilansir Middle East Monitor, Jumat (24/7/2026), Trump menyampaikan hal tersebut dalam wawancara terbaru dengan media AS Axios pada Kamis (23/7). Dalam wawancara itu, Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan besar-besaran AS tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang dibuat.
Dua pejabat AS, yang tidak disebut namanya, mengatakan secara terpisah kepada Axios, bahwa sejauh ini belum ada perintah militer baru yang diberikan.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap sepenuhnya untuk itu,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios tersebut.
Trump juga mengatakan bahwa Israel dapat bergabung dalam operasi terbaru AS itu “hampir seketika” jika diminta.
Trump Setop Serangan Sementara
Berdasarkan laporan The New York Times dan Axios, sebagaimana dilansir AFP dan Aljazeera, Minggu (26/7/2026), Presiden AS Donald Trump disebut telah memutuskan untuk menunda rencana menyerang Iran. Putusan tersebut keluar usai 13 hari berturut-turut melakukan serangan.
The Times, mengutip pejabat pemerintahan Trump, mengatakan keputusan presiden tersebut diambil di tengah kekhawatiran bahwa peningkatan perang dapat “secara berbahaya menguras persediaan pencegat rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya di Timur Tengah yang sudah menipis”.
Dikatakan bahwa keputusan tersebut menyusul pertemuan antara Trump, para penasihat utamanya, dan anggota senior kabinetnya pada hari Jumat lalu.
Axios, mengutip dua sumber anonim yang mengetahui keputusan tersebut, mengatakan tidak jelas apakah perintah Trump untuk menghentikan serangan itu hanya sekali saja atau apakah jeda tersebut akan berlanjut.
Laporan itu menyebut keputusan Trump “mencerminkan kesediaannya untuk memberikan lebih banyak ruang bagi diplomasi dan pengakuan bahwa tanpa kembali ke operasi tempur besar-besaran, tingkat serangan AS saat ini telah mencapai batas efektivitasnya”.
Laporan itu mengutip sumber-sumber yang mengatakan bahwa militer AS sedang mempersiapkan rencana untuk kemungkinan kembali ke operasi tempur besar-besaran.
Sementara itu, jeda ini telah menghidupkan kembali harapan untuk kembali ke negosiasi setelah hampir dua minggu pemboman malam berturut-turut oleh AS, meskipun media AS melaporkan bahwa jeda ini juga dapat mencerminkan tekanan pada persediaan pencegat Patriot dan senjata pertahanan lainnya.
Pertempuran di Selat Hormuz menggagalkan upaya diplomatik antara Washington dan Teheran, akan tetapi konflik meluas melampaui ke koridor energi vital hingga mencakup serangan terhadap pangkalan AS, pelayaran regional, dan sekutu Teluk.
Namun, operasi AS terhadap Iran “ditangguhkan,” lapor CNN, mengutip sumber Pentagon yang tidak disebutkan namanya. Laporan tersebut muncul ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan “tingkat yang jauh lebih tinggi” pada hari Jumat.
Sebelumnya pada Jumat, Trump mengatakan bahwa dia belum memutuskan apakah akan kembali ke operasi habis-habisan.
“Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius,” katanya kepada wartawan.





