Gondomanan,REDAKSI17.COM – Semangat gotong royong mewarnai peringatan Hari Sungai Nasional 2026 di Taman Perwira Bendung Surokarsan, Senin (27/7). Di tepian Sungai Code, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama berbagai komunitas, TNI AU, mahasiswa, dan pegiat lingkungan tidak sekadar memperingati sebuah hari penting, tetapi mengajak masyarakat kembali melihat sungai sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan koloni lebah madu lanceng dari Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo kepada Ketua Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan, Sodiq Ridwanto. Setelah itu dilanjutkan penyerahan bibit tanaman air mata pengantin untuk lima kelurahan, yakni Prawirodirjan, Ngupasan, Wirogunan, Keparakan, dan Brontokusuman.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penanaman tanaman air mata pengantin di Taman Perwira, pelepasan benih ikan wader dan tawes ke Sungai Code, serta penuangan ekoenzim sebagai simbol upaya menjaga kualitas air sungai.

Menuang cairan ecoenzyme

Bagi Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, peringatan Hari Sungai Nasional bukan sekadar agenda tahunan. Ia berharap momen ini menjadi pengingat bahwa sungai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari menjaga keseimbangan lingkungan hingga menjadi sumber penghidupan.

“Hari Sungai Nasional harus kita manfaatkan untuk mengingatkan seluruh masyarakat bahwa sungai adalah sumber kehidupan. Sungai menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke laut, menjadi habitat berbagai makhluk hidup, menyediakan ikan sebagai sumber pangan, sekaligus membantu mencegah banjir. Karena itu, menjaga sungai adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Hasto mengakui kondisi sungai di perkotaan masih menghadapi persoalan sampah. Menurutnya, kebersihan sungai bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga mencerminkan budaya masyarakat dalam memperlakukan lingkungan.

“Kita tidak perlu malu mengakui bahwa sungai kita masih ada yang dipenuhi sampah. Pendidikan setinggi apa pun tidak akan berarti jika kita masih membuang sampah ke sungai. Sungai yang bersih lahir dari kesadaran bersama,” katanya.

Penanaman air mata pengantin

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam peringatan tersebut adalah penanaman tanaman air mata pengantin di sepanjang bantaran sungai. Bukan tanpa alasan, tanaman berbunga kecil itu dipilih karena memiliki manfaat ekologis sekaligus ekonomi.

Menurut Hasto, bunga air mata pengantin menghasilkan nektar yang sangat disukai lebah lanceng. Kehadiran tanaman tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem baru di kawasan Sungai Code.

“Ketika air mata pengantin ditanam di pinggir sungai, lebah lanceng akan datang mengisap nektarnya dan menghasilkan madu. Jadi tanaman ini bukan hanya mempercantik sungai, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di kawasan Sungai Code bahkan madu lebah lanceng sudah berhasil dipanen,” ungkapnya.

Bersih-bersih sungai

Ia menambahkan, sungai yang bersih juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat. Pencemaran sungai, terutama dari limbah rumah tangga, dapat menurunkan kualitas air tanah yang masih banyak dimanfaatkan warga.

“Menjaga sungai berarti menjaga kesehatan masyarakat. Lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dalam mencegah berbagai penyakit, termasuk stunting pada anak,” jelasnya.

Penyerahan air mata pengantin kepada Lurah

Sementara itu, Ketua Komisi Daerah DIY Lembaga Pengawas Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LPKPK), Sarmidi, menyampaikan komitmennya untuk mendukung Program Kali Bersih melalui edukasi dan pengawasan di kawasan bantaran sungai.

Pihaknya akan terus mengampanyekan gerakan cinta sungai di sejumlah kelurahan di Kota Yogyakarta agar kesadaran menjaga sungai semakin tumbuh.

“Kami ingin membangun budaya masyarakat yang mencintai sungai, menjaga sungai, merawat sungai, dan berkarya di sungai. Harapannya volume sampah di sungai terus berkurang sehingga sungai benar-benar menjadi ruang hidup yang bersih dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Sarmidi.

 

Ia juga melihat potensi Sungai Code untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis lingkungan. Selain menikmati suasana sungai dengan perahu, masyarakat nantinya dapat melihat budidaya lebah lanceng yang memanfaatkan tanaman air mata pengantin sebagai sumber nektar.