Beranda / Daerah / PBD 2026 Perkuat Budaya Inklusif melalui Seni dan Terapi

PBD 2026 Perkuat Budaya Inklusif melalui Seni dan Terapi

Bantul,REDAKSI17.COM – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta resmi membuka Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026 yang berlangsung pada 28–30 Juli 2026 di SLB Negeri 2 Bantul, Selasa (28/7). Mengusung tema “MURAKABI” yang bermakna merayakan keberagaman dalam ruang yang inklusif, penyelenggaraan tahun ini menghadirkan inovasi melalui kolaborasi Pekan Budaya Difabel dengan Mobil Keliling Terapi (Moekti). Kolaborasi tersebut memadukan layanan terapi, seni, edukasi, dan pendampingan keluarga dalam satu ekosistem guna mendukung tumbuh kembang anak-anak difabel.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, integrasi PBD dan Moekti menjadi langkah strategis untuk memperluas manfaat program sekaligus memperkuat peran kebudayaan sebagai media pemberdayaan. Jika sebelumnya Moekti hanya berfokus pada layanan terapi dan melibatkan dua Sekolah Luar Biasa (SLB), tahun ini program tersebut diperluas dengan menggandeng 10 SLB melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi.

“Melalui tema MURAKABI, kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman difabel memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berprestasi, berkarya, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Keterbatasan fisik maupun mental bukanlah penghalang untuk maju, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujar Dian.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti beragam kegiatan, antara lain layanan terapi melalui Moekti, workshop bahasa isyarat, pelatihan pengemasan produk, pengenalan dunia difabel, pameran karya seni, pentas budaya, serta diskusi parenting bagi guru dan orang tua. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, sekaligus memperkuat dukungan keluarga dan lingkungan terhadap anak-anak difabel.

Keceriaan peserta terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Tama dan Nico, dua peserta Moekti, tampak antusias mengikuti sesi menggambar. Dengan krayon di tangan, keduanya menuangkan imajinasi berupa pepohonan, rumah, jalan, dan pemandangan alam ke atas kertas. Sesekali mereka menunjukkan hasil gambar kepada guru dan pendamping dengan senyum bangga. Momen sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa seni mampu menjadi media untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, dan interaksi sosial anak-anak difabel.

Ketua Panitia PBD 2026 M. Arif Wijayanto atau Broto Wijayanto mengatakan, Pekan Budaya Difabel bukan sekadar ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga sarana membangun kesadaran masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta, kreativitas, dan kemampuan yang patut diapresiasi.

“Kami berharap ke depan Pekan Budaya Difabel semakin inklusif. Teman-teman difabel tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat secara langsung kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka,” kata Broto.

Sementara itu, Lurah Bangunharjo Nur Hidayat menyambut baik penyelenggaraan PBD 2026 di wilayahnya. Menurutnya, kebudayaan merupakan ruang bersama yang harus dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Karena itu, ruang-ruang kreatif bagi penyandang disabilitas perlu terus diperluas agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.

Pekan Budaya Difabel 2026 akan berlangsung hingga 30 Juli 2026 dengan menghadirkan layanan terapi, pameran karya, pentas seni, workshop, dan diskusi parenting. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Dinas Kebudayaan DIY berharap semakin banyak anak difabel memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi, memperluas kesempatan berkarya, serta memperkuat budaya inklusif di DIY sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan yang terbuka bagi semua.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *