Beranda / Politik / FX Hadi Rudyatmo: Mobil Esemka Bukan Gagasan Jokowi

FX Hadi Rudyatmo: Mobil Esemka Bukan Gagasan Jokowi

Solo,REDAKSI17.COM – FX Hadi Rudyatmo mengungkap versi berbeda mengenai asal-usul mobil SMK yang kemudian dikenal luas sebagai Esemka. Mantan Wakil Wali Kota Solo yang mendampingi Joko Widodo selama dua periode itu menegaskan bahwa kendaraan tersebut bukan gagasan maupun karya Jokowi.
Dalam wawancara di podcast Akbar Faizal Uncensored di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026, Rudy menyebut mobil SMK sejak awal merupakan bagian dari program pendidikan.
“Itu mobil pendidikan,” katanya tegas.
Menurut Rudy, kendaraan itu disediakan melalui program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sarana praktik bagi siswa SMK. Mobil tersebut didatangkan dari Cina, kemudian sasisnya dipotong dan bodinya dikerjakan di bengkel lokal.
“Mobil SMK itu sebetulnya mobil pendidikan yang dipakai oleh anak-anak siswa sekolah SMK ini untuk praktek. Lah waktu itu mobil SMK itu panjang sasisnya sama Pak Joko Sutresna, itu mobil dipotong oleh namanya Kiat, itu tukang cet sebetulnya,” papar Rudy.
Rudy juga mengungkapkan bahwa kendaraan tersebut sempat gagal dalam uji emisi pertama sehingga harus diperbaiki. Menurutnya, Jokowi tidak terlibat dalam proses teknis modifikasi mobil itu.
Setelah diberi stiker bertuliskan SMK, kendaraan tersebut digunakan sebagai mobil dinas wali kota dan wakil wali kota Solo dengan nomor polisi AD 1 dan AD 2.
“Itu kita pasang adik satu dan adik dua untuk mobil SMK itu sendiri,” ujarnya.
Namun, ketika mobil tersebut mulai mendapat perhatian publik, Rudy menilai muncul narasi yang menempatkan Jokowi sebagai penggagas utama proyek mobil nasional. Ia mengaku tidak memahami mengapa cerita itu dibiarkan berkembang selama masa kampanye.
“Lah, kenapa dengan diam-diam saja waktu dia melakukan kampanye itu? Loh saya gak ngerti,” kata Rudy menandaskan rasa kecewanya atas pencitraan yang dibangun di atas kerja keras orang lain.
Rudy juga menuturkan bahwa dirinya ikut membawa mobil SMK ke Jakarta untuk mencari lokasi uji emisi. Dalam proses tersebut, ia mengajak Roy Suryo menuju Serpong.
“Dan saya memanfaatkan waktu itu Roy Suryo yang waktu itu kan jadi menpora. Itu kita ajak sampai ke Serpong untuk mencari uji emisi gas buang,” kenang Rudy.
Pernyataan itu sejalan dengan pengakuan Roy Suryo yang sebelumnya menyebut dirinya mengemudikan mobil SMK dalam perjalanan ke Jakarta, sedangkan Jokowi berada sebagai penumpang.
Kekecewaan Rudy semakin besar ketika pengembangan mobil tersebut tidak dilanjutkan bersama pihak yang sebelumnya telah membangun komunikasi dengan Solo Technopark. Rudy mengatakan mereka sempat menjajaki kerja sama dengan produsen otomotif dari Jerman dan Korea.
Namun, setelah menjadi presiden, Jokowi justru memilih menggandeng Proton, perusahaan otomotif asal Malaysia. Keputusan tersebut membuat Rudy marah dan akhirnya meninggalkan kepengurusan proyek mobil SMK.
“Kita tuh sebetulnya sudah pernah kerjasama, mau sudah komunikasi dengan Jerman dan Korea sebetulnya. Di Solo Technopark. Begitu mereka mau kerjasama dengan Proton, ya saya lebih baik marah. Jokowi lupa atas apa yang menjadi bahan pembicaraan tentang mobil SMK itu sendiri,” ujar Rudy dengan nada getir.
Rudy menyatakan tidak takut menyampaikan pengakuannya karena merasa menyaksikan langsung seluruh proses tersebut. Ia memilih menyerahkan penilaian kepada masyarakat dan Tuhan.
“Saya ini orang yang tidak pernah mau membalas apapun yang menjelek-jelekkan saya. Kenapa? Ya biarkan aja. Semua Tuhan yang mengetahui. Saya selalu sampaikan bahwa Tuhan tidak tidur,” pungkas Rudy dengan nada filosofis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *