Beranda / Ekonomi dan Bisnis / WTO Sebut Gangguan Selat Hormuz Ancam Perdagangan Global

WTO Sebut Gangguan Selat Hormuz Ancam Perdagangan Global

Selat Hormuz.Selat Hormuz. (AFP/Atta Kenare)

Jakarta,REDAKSI17.COM– Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyebut perdagangan global menghadapi salah satu gangguan terbesar dalam 80 tahun. Hambatan rantai pasok di Selat Hormuz dinilai berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan pupuk di pasar dunia.

Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala menyampaikan hal tersebut saat berbicara di sela-sela forum. Ia mengatakan sistem perdagangan global masih menunjukkan ketahanan, meski konflik yang berlangsung di Timur Tengah menjadi ujian besar bagi 166 negara anggota WTO.

Okonjo-Iweala mencatat perdagangan barang global tumbuh 4,6% pada tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya meski tekanan geopolitik masih berlangsung.

Saat ini, sekitar 72% perdagangan dunia masih berlangsung berdasarkan aturan WTO. Sebelumnya, pertumbuhan perdagangan barang global sepanjang tahun diproyeksikan hanya sebesar 1,9%.

Namun, pertumbuhan pada kuartal I mencapai 3,2%, melampaui perkiraan sebelumnya.

Menurut Okonjo-Iweala, sebagian momentum pertumbuhan tersebut ditopang lonjakan perdagangan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Perkembangan tersebut turut didukung perjanjian tarif rendah atau nol yang mencakup pengiriman semikonduktor dan cip senilai sekitar US$ 3 triliun secara global.

Meski demikian, ia mengingatkan agaR lonjakan perdagangan tersebut tidak dianggap akan berlangsung tanpa batas.

Manfaat ekonomi dari peningkatan perdagangan berbasis AI saat ini masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Timur sehingga menimbulkan perhatian terhadap inklusivitas pasar global.

Terkait gangguan di Selat Hormuz, Okonjo-Iweala mengatakan cadangan nasional sejauh ini masih mampu memberikan perlindungan sementara terhadap pasar dari dampak guncangan pasokan.

Namun, apabila gangguan di jalur perairan vital tersebut berlangsung berkepanjangan, biaya sektor pertanian berpotensi meningkat.

Perkiraan WTO sebelumnya menunjukkan harga minyak mentah yang mencapai US$ 90 per barel dapat memangkas pertumbuhan perdagangan global sebesar 0,5 poin persentase.

Sementara itu, harga minyak mentah saat ini telah berada di atas ambang tersebut.

Okonjo-Iweala juga mengatakan perusahaan pelayaran masih berupaya mempertahankan volume perdagangan dengan mengalihkan kapal melalui rute alternatif.

Akan tetapi, penggunaan jalur yang lebih panjang meningkatkan biaya dan premi secara signifikan. Kondisi tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas rantai pasok global dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Okonjo-Iweala mendorong negara-negara berkembang untuk ikut terlibat dalam penyusunan kebijakan perdagangan yang lebih modern agar dapat memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.

Reformasi tersebut, menurut dia, perlu menyasar mekanisme kelembagaan yang tidak lagi berfungsi optimal sekaligus membantu mencegah negara berkembang semakin tertinggal dalam perdagangan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *