UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengajak Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Daerah Istimewa Yogyakarta memperkuat kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi berbasis budaya sekaligus memperkuat posisi Kota Yogyakarta sebagai kota kreatif.
Ajakan tersebut disampaikan Wawan Harmawan saat menjadi Narasumber dalam kegiatan Welcome to GEKRAFS “Dolan, Dodolan, Dolanan: Membangun Kolaborasi dalam Ekosistem Ekonomi Kreatif Yogyakarta”, yang berlangsung di Ruang Bima Balaikota Yogyakarta, Jumat (31/7).
Pihaknya mengatakan, Pemerintah Kota Yogyakarta siap memfasilitasi perkembangan Gekrafs agar semakin berkembang, tidak hanya di Kota Yogyakarta tetapi juga menjadi referensi bagi daerah lain di Indonesia.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DWP) Gekrafs DIY, Sarah Azzahra bersama Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti saat berdiskusi mengenai perkembangan ekonomi kreatif.

“Anak-anak muda memiliki kekuatan besar melalui ide, gagasan, kreativitas, dan inovasi. Itulah sumber daya utama ekonomi kreatif. Kami berharap Gekrafs di Yogyakarta semakin maju dan mampu melahirkan berbagai kreatifitas luar biasa yang menjadi referensi di Indonesia,” jelas Wawan.
Menurutnya, Kota Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam maupun sektor pertanian yang besar. Oleh karena itu, industri kreatif menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kalau berbicara Kota Yogyakarta, bisnis terbesar kita adalah industri kreatif. Didukung sektor hotel, restoran, kafe, hingga berbagai pelaku usaha kreatif. Sebanyak 99 persen pelaku usaha di Kota Yogyakarta adalah UMKM, sehingga potensi ekonomi kreatif harus terus diperkuat,” katanya.
Wawan menjelaskan, saat ini terdapat berbagai subsektor ekonomi kreatif yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan, mulai dari film, kuliner, kriya, fesyen, musik, seni pertunjukan, hingga konten digital. Karena itu, ia mendorong anggota Gekrafs aktif membangun jejaring dengan pelaku industri yang lebih senior agar mampu meningkatkan kapasitas dan memperluas pasar.
“Kami ingin teman-teman ekonomi kreatif hadir dengan ide-ide baru dan karya-karya kreatif untuk mendukung perayaan ulang tahun Kota Yogyakarta. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa kolaborasi antara komunitas dan pemerintah mampu menghasilkan program yang nyata,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DWP) Gekrafs DIY, Sarah Azzahra mengatakan, tema kegiatan tersebut dipilih karena kemajuan ekonomi kreatif tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan seluruh pelaku ekonomi kreatif agar tercipta ekosistem yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diisi dengan diskusi bersama para peserta.

“Kami berharap forum ini tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang dapat diwujudkan dalam berbagai program nyata di masa mendatang,” kata Sarah.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menegaskan bahwa budaya merupakan sumber utama lahirnya ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta.
Beragam produk kreatif tumbuh dari kekayaan budaya yang dimiliki kota tersebut dan kemudian berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
“Kalau kita berbicara ekonomi kreatif, maka yang menjadi sumbernya adalah budaya, ide, dan teknologi. Ketiganya kemudian melahirkan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi. Kekuatan Kota Yogyakarta justru ada pada identitas budayanya yang tidak dimiliki daerah lain,” jelas Yetti.
Menurutnya, budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi inspirasi utama bagi lahirnya berbagai inovasi kreatif. “Kolaborasi menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif. Setiap pelaku memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pencipta karya, promotor, pemasar, hingga komunitas yang menghidupkan sebuah kegiatan,” ungkapnya.
Tambahnya, Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong kolaborasi tersebut melalui berbagai program, seperti Festival Sastra Yogyakarta, Babad Siti Kemang, jelajah budaya, hingga aktivasi kawasan cagar budaya. Berbagai kegiatan tersebut mempertemukan penulis, ilustrator, penerbit, seniman, komunitas, pelaku UMKM, dan subsektor ekonomi kreatif lainnya dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Yang kami jaga bukan hanya bangunan cagar budaya, tetapi juga bagaimana ruang budaya itu tetap hidup melalui festival, pertunjukan, dan berbagai kegiatan kreatif. Di situlah ekonomi kreatif tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.