Beranda / Nasional Dan Internasional / Presiden Prabowo: Saya Tidak Anti Pengusaha Besar

Presiden Prabowo: Saya Tidak Anti Pengusaha Besar

JAKARTA,REDAKSI17.COM– Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah yang dipimpinnya sama sekali tidak memusuhi kalangan pengusaha besar. Sebaliknya, pemerintah justru berkepentingan memastikan perusahaan-perusahaan besar nasional tumbuh semakin kuat, sehat, dan terlindungi karena mereka merupakan salah satu pilar penting pembangunan ekonomi Indonesia. Namun, menurut Presiden, pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan segelintir kelompok yang semakin kaya, sementara mayoritas rakyat tertinggal. Karena itulah pemerintah menjalankan strategi membangun ekonomi rakyat secara besar-besaran melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai fondasi pemerataan kesejahteraan.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan taklimat di hadapan sekitar 150 pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari tingkat pusat maupun daerah di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Pertemuan yang dipimpin Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie itu menjadi ajang konsolidasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat sinergi pembangunan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Dalam pidatonya yang berlangsung lebih dari satu jam, Prabowo tidak hanya berbicara mengenai hubungan pemerintah dengan dunia usaha, tetapi juga menguraikan pandangannya mengenai pembangunan bangsa (nation building), pentingnya persatuan elite nasional, ketahanan pangan, situasi geopolitik dunia, politik luar negeri Indonesia, hingga arah pembangunan ekonomi yang menurutnya harus bertumpu pada kolaborasi seluruh komponen bangsa melalui semangat Indonesia Incorporated.

Presiden mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh jajaran pimpinan Kadin. Ia mengatakan langsung memprioritaskan pertemuan tersebut karena memandang Kadin sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun ekonomi nasional. “Saya dilaporkan Kadin ingin datang. Saya katakan ini sangat penting dan harus saya prioritaskan menerima saudara-saudara,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, pembangunan bangsa merupakan proses yang sangat panjang dan kompleks. Sejarah dunia menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah hanya ditentukan oleh pemerintah semata, melainkan oleh kemampuan seluruh elemen bangsa bekerja dalam satu tujuan yang sama.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ekonomi selalu berkaitan erat dengan politik, budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan, bahkan agama. Karena itu pembangunan nasional harus dilakukan secara lintas sektor dengan mengerahkan seluruh kekuatan bangsa. “Nation building memerlukan kekuatan seluruh bangsa untuk dipersatukan sehingga semua sumber daya bangsa dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat,” katanya.

Tidak Anti Pengusaha Besar

Pada bagian yang paling mendapat perhatian para peserta, Presiden menepis anggapan bahwa berbagai kebijakan pemerintah selama ini menunjukkan sikap anti terhadap perusahaan-perusahaan besar.

Prabowo menegaskan bahwa persepsi tersebut sama sekali tidak benar. “Saya tidak anti pengusaha besar. Saya justru ingin mengamankan mereka.”

Menurut Presiden, perusahaan-perusahaan besar merupakan aset nasional yang harus dijaga karena memiliki peran besar dalam menciptakan investasi, lapangan kerja, penerimaan pajak, ekspor, serta penguasaan teknologi dan jaringan pasar internasional.

https://cdn.investortrust.id/images/17855038911933685.jpg
Presiden Prabowo Subianto berfoto bersama Ketua Umum Kadin Indonesia dan jajaran pengurus Kadin dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Foto: Istimewa

Karena itu, pemerintah berkepentingan memastikan dunia usaha memperoleh kepastian hukum, stabilitas politik, keamanan, serta iklim investasi yang sehat. Tidak boleh ada regulasi yang menghambat kemajuan dunia usaha. Namun, Presiden mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada keberhasilan kelompok usaha besar saja.

Ia menilai tidak sehat apabila sebagian besar kekayaan nasional hanya berputar di tangan sekitar satu persen elite ekonomi, sementara jutaan rakyat di desa dan kawasan perkotaan belum memiliki akses terhadap modal, pasar, teknologi maupun kelembagaan ekonomi yang kuat. Ketimpangan seperti itu justru akan melemahkan fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Jika kesenjangan sosial membesar, yang besar juga akan terkena dampaknya. “Tidak bisa satu persen menguasai ekonomi negara. Pasti akan terjadi revolusi. Itu sebabnya saya membangun masyarakat menengah-bawah di desa dan kota lewat koperasi,” jelas Presiden.

Membangun Fondasi Ekonomi Nasional

Atas dasar pemikiran tersebut, pemerintah meluncurkan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang menjadi salah satu program prioritas nasional. Menurut Presiden, koperasi bukan dibangun untuk menyaingi perusahaan besar, melainkan untuk memperkuat masyarakat lapisan bawah agar mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif.

Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi pusat distribusi pangan, perdagangan hasil pertanian, pembiayaan usaha rakyat, logistik, penyimpanan hasil panen, hingga pelayanan ekonomi desa. Dengan demikian, masyarakat desa memperoleh akses ekonomi yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya beli dan produktivitas nasional.

“Kalau rakyat bawah kuat, pasar domestik juga kuat. Kalau pasar domestik kuat, perusahaan-perusahaan besar juga akan menikmati pertumbuhan yang lebih besar,” demikian inti pandangan Presiden.

Untuk memperkuat argumentasinya, Prabowo mengutip salah satu pidato Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang menurutnya tetap relevan hingga sekarang.

If a free society cannot help the many who are poor, it cannot save the few who are rich.”

Presiden mengatakan kalimat tersebut mengandung pelajaran yang sangat penting bagi seluruh bangsa. Apabila sebuah negara gagal membantu mayoritas rakyat yang masih miskin, maka pada akhirnya negara tersebut juga tidak akan mampu melindungi kelompok masyarakat yang telah kaya.

https://cdn.investortrust.id/images/17855079616443548.jpg
Presiden Prabowo Subianto bersama anggota Kadin Indonesia, Kadin Provinsi, Asosiasi, dan himpunan pengusaha dari seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Foto: Laily Rachev – Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Karena itu, pemerataan kesejahteraan bukan semata persoalan keadilan sosial, melainkan juga syarat bagi terciptanya stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keberlanjutan dunia usaha.

Dalam kesempatan tersebut Prabowo kembali mengangkat konsep Indonesia Incorporated, yaitu sebuah paradigma pembangunan yang menempatkan pemerintah, dunia usaha, BUMN, koperasi, perguruan tinggi, pekerja, petani, media, dan masyarakat sebagai satu tim besar yang bergerak menuju tujuan yang sama. “Mari kita wujudkan Indonesia Incorporated,” kata Presiden.

Menurut Presiden, kompetisi antarbangsa pada abad ke-21 bukan lagi sekadar persaingan perusahaan, melainkan persaingan antarnegara yang mampu mengorganisasi seluruh kekuatan nasionalnya. Karena itu, pemerintah ingin membangun hubungan kemitraan yang erat dengan Kadin Indonesia agar seluruh sumber daya nasional dapat bergerak dalam satu arah.

Elite Harus Bersatu

Presiden kemudian mengajak para pengusaha belajar dari sejarah berbagai bangsa di dunia. Menurutnya, terdapat satu benang merah yang selalu muncul dalam perjalanan negara-negara maju. “Semua bangsa yang berhasil, elitenya bisa bekerja sama. Semua negara yang gagal, elitenya ribut.”

Prabowo menjelaskan bahwa yang dimaksud elite bukan hanya elite politik, tetapi juga elite ekonomi, elite intelektual, elite agama, elite budaya, elite pekerja, elite pengusaha, hingga elite profesi lainnya.

Apabila seluruh unsur kepemimpinan bangsa bersinergi, kata dia, pembangunan akan berlangsung cepat. Sebaliknya, jika para elite saling bertentangan, energi bangsa akan habis untuk konflik sehingga sulit mencapai kemajuan.

Karena itu, Presiden mengaku bersyukur sejak awal pemerintahannya memperoleh dukungan dan komitmen Kadin Indonesia untuk menjadi mitra pemerintah dalam mempercepat pembangunan ekonomi nasional.

Ketahanan Pangan dan Energi

Fondasi utama dari seluruh proses pembangunan, demikian Presiden, adalah ekonomi. Sebab, kesejahteraan masyarakat selalu bermula dari terpenuhinya kebutuhan paling mendasar.

“Masalah perut adalah masalah ekonomi,” ujarnya. “Kalau saya berbicara puluhan tahun, saya selalu kembali kepada soal pangan dan perut, karena itulah pelajaran terbesar dari ribuan tahun sejarah peradaban manusia.”

https://cdn.investortrust.id/images/1785507693659646.jpg
Presiden Prabowo Subianto bersama anggota Kadin Indonesia, Kadin Provinsi, Asosiasi, dan himpunan pengusaha dari seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Foto: Laily Rachev – Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan pemerintah memperkuat ketahanan pangan hingga mencapai swasembada menjadi pencapaian yang sangat strategis. Menurutnya, keberhasilan tersebut diraih dalam waktu relatif singkat dan bahkan melampaui perkiraan banyak pihak yang sebelumnya meragukan kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

“Alhamdulillah kita sudah mencapai ketahanan pangan dan swasembada pangan. Banyak yang tidak percaya, tetapi ini hasil nyata. Inilah yang membuat kita percaya diri. Apa pun yang terjadi di dunia, kita yakin mampu menjamin kebutuhan pangan bangsa Indonesia,” katanya.

Presiden menilai keberhasilan itu bukan prestasi yang mudah mengingat Indonesia hanya beberapa kali menikmati swasembada pangan sepanjang sejarah modernnya. Karena itu, capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi ketahanan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Presiden mengaku dirinya tidak tenang selama Indonesia belum mencapai swasembada pangan dan energi. Kini, setelah swasembada pangan tercapai, Indonesia harus mewujudkan swasembada energi.

Oleh karena itu, Blok Gas Masela yang belum dibangun sejak 25 tahun silam, kata Presiden, kini mulai dibangun. Semua potensi minyak dan gas (migas), di antaranya di Blok Natuna, harus digarap dengan serius.

Berdamai dengan Semua Negara

Dalam kesempatan itu, Prabowo kembali mengingatkan dunia usaha bahwa situasi internasional masih berada dalam fase yang sangat berbahaya. Sejak awal pemerintahannya, ia mengaku terus mengingatkan berbagai kalangan agar tidak meremehkan eskalasi geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Menurut Presiden, perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022 menunjukkan bagaimana sebuah konflik regional dapat berkembang menjadi krisis global yang berkepanjangan. Bahkan, katanya, durasi perang tersebut berpotensi melampaui lamanya Perang Dunia Kedua.

“Jutaan orang sudah menjadi korban. Dan sekarang kita menyadari bahwa perang di satu bagian dunia berdampak ke mana-mana, terhadap harga pangan, energi, bahan bakar, logistik, dan kehidupan ekonomi seluruh dunia,” ujarnya.

Belum berakhir konflik di Ukraina, dunia kembali diguncang peperangan di Gaza, Lebanon, dan kawasan Timur Tengah yang melibatkan ketegangan di Selat Hormuz serta Iran. Presiden mengingatkan bahwa ancaman penggunaan senjata nuklir tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang mustahil.

Di kawasan Asia Tenggara sendiri, lanjut Prabowo, stabilitas yang selama ini menjadi kekuatan ASEAN juga menghadapi ujian berat. Perang saudara di Myanmar masih berlangsung, sementara ketegangan bersenjata antara Thailand dan Kamboja menunjukkan bahwa konflik kini semakin dekat dengan Indonesia.

Meski demikian, Presiden menegaskan Indonesia tidak akan ikut terseret dalam rivalitas kekuatan besar dunia. Menurutnya, Indonesia memiliki warisan yang sangat berharga dari para pendiri bangsa, yakni politik luar negeri bebas aktif yang tidak berpihak kepada blok kekuatan atau pakta militer mana pun.

“Kita mewarisi politik luar negeri non-blok, non-aligned. Kita tidak ingin bergabung dengan blok atau pakta militer mana pun,” katanya.

Prabowo menjelaskan bahwa sejak hari pertama menjabat Presiden, dirinya menegaskan arah diplomasi Indonesia sebagai the good neighbor policy, yakni menjadi tetangga yang baik bagi seluruh negara.

Our policy is the policy of the good neighborWe want to be a good neighbor,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, Indonesia berupaya memperbaiki hubungan dengan seluruh negara tetangga, menyelesaikan berbagai persoalan perbatasan secara damai, serta mengedepankan rekonsiliasi dibandingkan konfrontasi.

Presiden mengakui penyelesaian berbagai persoalan kawasan tidak selalu mudah karena sering kali terdapat kepentingan yang saling bertabrakan. Namun sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia harus menunjukkan sikap yang lebih arif, lebih sabar, dan tidak mudah terprovokasi.

Sikap netral itu pula, menurut Prabowo, membuat Indonesia diterima oleh hampir seluruh kekuatan dunia. Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, India, Australia, hingga negara-negara tetangga di kawasan Pasifik.

Bahkan, Presiden mengungkapkan bahwa dalam kunjungannya ke Korea Selatan baru-baru ini, Presiden Republik Korea meminta Indonesia membantu membuka jalur dialog dengan Korea Utara. “Saya katakan, kalau memang diminta untuk membantu membuka dialog, dengan hormat saya siap berangkat,” ujarnya.

Kepercayaan tersebut, kata Prabowo, muncul karena Indonesia dipandang sebagai negara yang tidak memiliki agenda tersembunyi ataupun kepentingan mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Meski situasi global semakin kompleks, Presiden meminta dunia usaha tidak terjebak dalam kepanikan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kewaspadaan, kebijaksanaan, dan kemampuan membaca perubahan dunia dengan tenang.

“Tidak ada gunanya kita panik atau ketakutan. Tetapi kita harus semakin sadar, semakin arif dalam bertindak dan berbicara, serta tetap waspada,” katanya.

Pada bagian akhir pidatonya, Prabowo mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia merupakan anugerah sekaligus tantangan. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa bangsa atau kawasan yang dikaruniai sumber daya alam melimpah hampir selalu menjadi sasaran perebutan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Ia mencontohkan bagaimana pada abad ke-16 hingga ke-17 Nusantara menjadi pusat perebutan bangsa-bangsa Eropa karena rempah-rempah dan kayu berkualitas tinggi yang saat itu merupakan komoditas strategis bagi perdagangan dan kekuatan maritim dunia.

“Dulu belum ada lemari pendingin. Rempah-rempah sangat penting agar makanan tidak cepat rusak dalam pelayaran panjang. Mereka juga membutuhkan kayu terbaik untuk membangun armada laut. Semua itu ada di Nusantara,” ujarnya.

Karena itu, Presiden mengingatkan bahwa kekayaan alam dapat menjadi berkah sekaligus kutukan (resource curse) apabila tidak dikelola secara bijaksana. Oleh sebab itu, Indonesia harus terus memperkuat persatuan nasional, menjaga stabilitas politik, membangun ketahanan pangan, memperkuat hilirisasi industri, serta memastikan seluruh kekayaan nasional dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Bagi bangsa yang kaya sumber daya, hukum alamnya adalah kekayaan sering menimbulkan iri. Karena itu kita harus semakin kuat, semakin bersatu, dan semakin cerdas dalam mengelola kekayaan yang kita miliki,” tegas Presiden.

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 150 pengurus Kadin Indonesia. Dari jajaran Kadin Pusat hadir antara lain Ketua Umum Anindya Novyan Bakrie, Wakil Ketua Umum Koordinator Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Pangan Mulyadi Jayabaya, Wakil Ketua Umum Koordinator Luar Negeri James Riady, Wakil Ketua Umum Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Karmelita Hartoto, Wakil Ketua Umum Koordinator Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Bobby Gafur Umar, Wakil Ketua Umum Koordinator Sosial Diah Anita Prihapsari, Wakil Ketua Umum Koordinator Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan sekaligus Ketua Umum Apindo Sinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Politik dan Keamanan Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Umum Koordinator Hukum, HAM, Sarana dan Prasarana M. Aziz Syamsuddin, serta Wakil Ketua Umum Koordinator Pembangunan Ekspor Juan Permata Adoe.

Hadir pula para Ketua Umum Kadin provinsi dari berbagai daerah, termasuk Bangka Belitung, Bali, Bengkulu, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Lampung, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, serta perwakilan Kadin kabupaten/kota.

Di akhir sambutannya, Presiden mengajak dunia usaha untuk terus menjaga optimisme. Menurutnya, tantangan global memang semakin berat, tetapi Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara: sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, stabilitas politik yang terjaga, dan semangat gotong royong.

Pemerintah, dunia usaha, koperasi, pekerja, akademisi, dan masyarakat bergerak dalam satu barisan melalui semangat Indonesia Incorporated. Prabowo meyakini Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mewujudkan cita-cita menjadi negara maju yang kemakmurannya dinikmati oleh seluruh rakyat, bukan hanya oleh segelintir orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *