Raden Mas Jatmika alias Raden Mas Rangsang, kelak menjadi Sultan Agung di Mataram. Bertahta pada tahun 1593 sampai dengan 1645. Dia ahli bidang agama, militer, ekonomi, sosial, dan budaya. Berhasil membawa kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada tahun 1627. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan sebagian Jawa Barat.

Sultan Agung meneruskan pendahulunya yang meletakkan dasar perkembangan Mataram Islam. Pemerintahannya, ulama ditempatkan pada kedudukan terhormat, sebagai penasehat tinggi kerajaan. Dengan menyesuaikan unsur kebudayaan Hindu dan Islam. Mengenalkan penanggalan Tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing. Pada bidang ekonomi mengembangkan alat-alat pertanian. Dia memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Karawang Jawa Barat. Untuk mengolah sawah dan ladang yang lebih luas dan subur. Bidang militer dan politik, Sultan Agung melawan VOC secara besar-besaran.

Mayoritas warga Sekarsuli ahli pandhe besi ‘tukang besi’. Sejak masa Sultan Agung, ahli membuat alat-alat dari besi atau baja. Utamanya alat- alat untuk bertani. Di antaranya cangkul, arit, bendho, bapang, kapak, dan pisau. Ahli membuat senjata, seperti tombak, pedang, dan keris. Topi baja dan pakaian besi untuk pakaian perang. Perempuan ahli membuat alat- alat rumah tangga. Yaitu serok, sothil, susuk, enthongcinthung, sendok, dan garpu. Bahkan perkakas masak atau perkakas dapur lainnya.

Padukuhan Sekarsuli berada di Jalan Wonosari kilometer enam. Berjarak sekitar satu kilometer dari kantor Desa Sendangtirto, Kapanewon Berbah. Permukiman penduduk cukup padat di bagian selatan. Persawahan berada di bagian utara padukuhan. Mengalir sungai Mruwe di barat Padukuhan. sungai (kali) Mruwe, sebelah barat Sekarsuli. Airnya dari sendang atau sumber air (tuk) di sekitarnya. sungai tersebut selama ini hanya banjir sekali.

Pada aliran sungainya ada makam Pangeran Purbaya (Wotgaleh), makam Manda- lika di Krandon, dan makam depan masjid Padukuhan Sendang. Diceritakan Kali Mruwe menjadi jalur atau jalan kereta Nyi Roro Kidul saat ber-kunjung ke Wotgaleh ber-temu Pangeran Purbaya I. Orang-orang melihat (meruhi) kereta melewati sungai tersebut, kemudian disebut Kali Mruwe. Antara ratu laut selatan telah terikat dengan raja-raja Mataram. Hubungan ratu laut selatan dengan raja-raja Mataram telah dipercaya sebagian besar masyarakat Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan sebagian Jawa Barat

Misteri Mbah Padhang Bulan

Menurut catatan De Graaf dan National Geographic dalam Babad Tanah Djawi. Van Goens dan Abr. Vespreet bertemu Pangeran Purbaya saat mengunjungi Mataram pada Oktober 1668. Seorang kakek sakti mandraguna. Salah satu pembesar Mataram yang turut bertempur melawan Belanda di Batavia tahun 1628 – 1629.

Jaka Umbaran alias Raden Damar alias Pangeran Purbaya I alias Pangeran Senopati. Putra Panembahan Senopati dengan putri Ki Ageng Giring, Rara Lembayung. Jaka Umbaran ahli dengan aji-aji atau jurus panglimun raga, tidak dapat dilihat mata atau menghilang.

Menurut Serat Kandha, yang ditulis H.J. De Graaf dalam buku Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, terbit tahun 1987. Pangeran Purbaya disebut sebagai seorang yang pertama-tama duduk di tahta kerajaan Mataram. Diberitakan kemakmuran semakin meningkat dalam kerajaan. Pemerintahan yang adil dan mantapnya tindakan serta keputusan pemerintahan. Mataram berada dalam kondisi yang baik dan maju. Kepercayaan rakyat akan kehebatan Pangeran Purbaya sebagai putra mahkota yang menduduki tahta kerajaan. Folklore dalam tutur Jawa juga menyebutkan kehebatan dan kesaktian Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbaya I sampai akhir hayatnya telah mengabdi pada tiga generasi di Mataram. Dia dikebumikan di makam Wotgaleh. Wotgaleh berasal dari kata wot ing penggalih, artinya jembatan hati menuju ketenteraman. Sampai dengan sekarang banyak peziarah yang laku tirakat ‘menjalankan tirakat’ di makam tersebut.

Selain Pangeran Purbaya, ada Cinde Amo, Mbah Jejer, dan Ki Juru Mertani sebagai guru kehidupan Sultan Agung. Cinde Ameh merupakan abdi dalem sekaligus guru spiritual dan penasihat pribadi Sultan Agung. Mbah Jejer atau Kyai Jejer sebagai guru agama dan olah kanuragan sejak usia muda. Ki Juru Mertani atau Kyai Ageng Juru Mertani, seorang petani yang berwawasan negarawan menjadi guru Sultan Agung.

Sultan Agung sejak muda tertarik dunia pertanian. Dia gemar olah kanuragan dan menyukai senjata, utamanya keris dan tombak. Pandhe besi Sekarsuli menjadi salah satu tempat untuk pembuatan senjata. Pemasok persenjataan prajurit perang Mataram selama Sultan Agung melancarkan serangan ke kerajaan lain.

Sultan Agung sering bertandang di Sekarsuli sebagai tempat pemasok senjata para prajurit. Mbah Padhang Bulan orang pilihan di Sekarsuli yang memegang jalannya gerak para pandhe besi. Kesaktian dan keahliannya menyukseskan pembuatan senjata dan alat pertanian secara besar-besaran. Penghormatan diberikan Sultan Agung beserta keturunannya dan kerabat Mataram kepada Mbah Padhang Bulan.

Hj. Supartinah warga Sekarsuli paling tua pernah didongengkan, bahwa dahulu ada keluarga akan nyekar ke makam Mbah Padhang Bulan. Bunganya lupa (lali tidak terbawa. Juru kunci memberitahukan tidak perlu kembali mengambil bunga. Bunganya diganti (sekare disulihi, diganti dengan doa (disulihi donga. Supartinah mengatakan, “Bisa jadi Mbah Padhang Bulan keturunan orang besar atau kerajaan dari luar Keraton Yogyakarta. Melarikan diri ke tempat ini, sampai dengan meninggal.”

Sekarang warga Sekarsuli sebagian besar pandhe besi alat-alat pertanian. Sekarsuli juga pusat kesenian, seperti wayang orang dan kethoprak. Masyarakat bermatapencaharian bidang pertanian, petani dan peternak hanya sedikit. Bahkan ibu-ibu juga menjadi perajin alat rumah tangga. Para laki-laki jadi pandhe besi karena butuh tenaga kuat. Saat membakar besi dan memukul atau membentuk besi menjadi alat-alat pertanian atau senjata. Supartinah menambahkan, sekarang banyak alat pandhe besi yang dijual. Masyarakat hanya membuat alat-alat ringan, yang bisa dilakukan oleh satu orang saja. Memanfaatkan barang bekas kaleng, menjadi serok, irus, serok sampah, dan perkakas rumah lainnya.

Sekarsuci

Makam Sekarsuli barat menjadi tempat pemindahan nisan (kijing) Mbah Padhang Bulan. Masyarakat sekitar meyakini, Mbah Padhang Bulan bukan orang sembarangan. Banyak orang melewati makam hanya berputar-putar, saat makam berada di tengah Padukuhan. Mereka tersesat (keblasuk), jika lewat tanpa ijin (amit-amit atau uluk salam). “Sekar suci tenanliwat kudu amit-amit, uluk salam. Sekar suci sekar suli kang indah,” ungkap Siswandi.

Siswandi, salah satu perajin pipih besi, wayang atau hiasan dari besi di Padukuhan Sekarsuli. Leluhur Siswandi mengajarkan cara membuat topi besi dan berbagai perkakas dari besi. Alat-alat peninggalan sejak tahun 1920 dan 1930 masih terpakai. Para pandhe besi Padukuhan Sekarsuli mulai surut sekitar tahun 1992. Generasi penerus sudah beralih profesi dan bahan semakin mahal.

Menurut Kasno, Ketua RT 2 dan Ketua Paguyuban Pangrukti Laya (Papayo Padukuhan Sekarsuli, bahwa Sekarsuli itu sekar suci, sekar suli, bunga yang indah, tempat yang edi. Mbah Padhang Bulan sebagai cikal bakal. Dia pembimbing masyarakat Sekarsuli yang ditunjuk Sultan Agung sebagai sentra pandhe besi. Siswandi dan Kasno turut dalam pemindahan nisan Mbah Padhang Bulan tahun 1981.

Herman Padiyanto, SE., Carik Kalurahan Sendangtirto, mantan Dukuh Sekarsuli, mengatakan di makam Mbah Padhang Bulan ada empat nisan tidak terawat. Beberapa nisan tersebar di sekitarnya. Orang sering datang memuja, sebagai tempat pamujan. Banyak orang yang datang nyekar dan tirakat tiap malam tertentu. Hal itu dianggap tidak baik dalam keimanan secara Islam. Keputusan warga, makam Mbah Padhang Bulan dipindahkan di permakaman umum bersama makam warga. Bekas makam tersebut sekarang dibangun gedung TPA Al-Muhtadin.

Herman menambahkan, “Nama atau istilah Sekarsuli ada kaitan dengan makam Wotgaleh makam Pangeran Purbaya. Konon keluarga Panembahan Senopati akan nyekar ke Wotgaleh melalui jalan barat Padukuhan. Bunganya (sekar) ketinggalan, kemudian disusuli sampai di tempat yang sekarang ini. Tempat ini kemudian dinamakan Padukuhan Sekarsuli.”

Saryanto, warga RT 4 mengatakan, bahwa di jaman Mataram, Sekarsuli bernama Sekarsuci. Ada keterkaitan dan hubungan antara Sekarsuci, Wotgaleh, Keraton, dan Kotagede. Buku-buku yang mendokumentasikan hal itu dibawa ke Belanda, termasuk buku tentang Kadisono sampai dengan Boko sudah terdokumentasi di Belanda. Peninggalan leluhur trah Mbah Modin, Trah Mangunhardjan dari Sekarsuli berupa dua bilah keris. Tombak dan keris sebagai peninggalan dari Mbah Modin. Peninggalan dari Potorono berupa lima buah tombak. Tombak tersebut bisa memadamkan api saat rumah terbakar bom jaman perang. Salah satu tombak telah ditanam di stadion Maguwo.

Wahyu Warsana, Dukuh Sekarsuli, mengatakan saat perang dengan Belanda, Pangeran Purbaya meninggal dengan cara dilempari kotoran sapi. Pangeran Purbaya sangat sakti, ditembak dengan mesiu tidak mempan. Kotoran sapi tiap hari dibersihkan dengan cara disayat menggunakan keris. Kulit yang terkena kotaran sapi semakin hari semakin habis, tinggal tulang, akhirnya meninggal. Jenazahnya dibawa dari Keraton Mataram Kotagede, Bunga suci, yang terdiri atas bunga kanthil, kenanga, melati, mawar merah dan mawar putih tertinggal. Jenazah Pangeran Purbaya sebagai bunga (sekar) Keraton Mataram berhenti di tempat yang suci, menunggu bunga yang tertinggal disusulkan. Tempat tersebut yaitu Sekarsuli, bertemunya sekar suci dari Keraton Kotagede dan jenazah Pangeran Purbaya, kemudian melanjutkan perjalanan ke Wotgaleh, untuk proses permakaman,” cerita Wahyu Warsono.

Keluarga Mangun Hardjo merupakan keluarga besar Padukuhan Sekarsuli. Hampir enam puluh persen tanah milik Mangun Hardjo. Tanah tersebut, sekarang sudah dibagi waris dan ada yang sudah dijual. Mangun Hardjo sebagai Modin atau pemuka agama, di Kalurahan Karangsari. “Lurahnya siapa semua orang tidak tahu, yang diketahui hanya Modin. Saya pernah bertanya kepada orang-orang tua sebelum saya. Juga tidak tahu lurahnya siapa. Yang dikenal cuman Mbah Modin. Kalurahan Sendangtirto awalnya terdiri dari lima kalurahan, yaitu Kalurahan Cepor, Sendang, Blimbing, Wotgaleh, dan Karangsari.

Jejak Sultan Agung dalam kehidupan sosial ekonomi dan seni budaya masyarakat di Sekarsuli masih terasa sampai dengan sekarang. Sekarsuci, nama baik dan harum masih terasa di Padukuhan Sekarsuli. Kehidupan agama dan spiritual yang kental, tumbuh subur tempat pendidikan keagamaan. Toleransi kehidupan antar umat beragama terjalin harmonis dan damai. Kesenian tari, kethoprak dan wayang kulit masih dilestarikan. Geliat ekonomi perajin besi berkembang dan terjaga kelestariannya. Sekar tetap menjadi bunga, suli sebagai anyaman hiasan bunga yang indah. Sekarsuli memang Sekarsuci yang akan selalu indah penuh harapan.

Penulis : Sabatina Rukmi Widiasih