Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Prasasti Mantyasih, Sejarah awal Magelang

Prasasti Mantyasih, Sejarah awal Magelang

Desa Perdikan Mantyasih: Sejarah awal Magelang tercatat pada Prasasti Mantyasih bertanggal 11 April 907 Masehi, yang kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Magelang. Wilayah ini pada mulanya adalah desa perdikan (daerah otonomi yang dibebaskan dari pajak) dan saat ini lokasinya diyakini berada di kawasan Kampung Meteseh. Di sana terdapat artefak lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan wilayah tersebut.
Etimologi Geografis: Secara bahasa, nama “Magelang” diduga berasal dari sebutan desa kuno “glang-glang”, “galang”, atau “galam”. Pendapat lain menyebutkan bahwa nama ini terbentuk dari gabungan kata “Maha” (besar) dan “Gelang”. Hal ini merujuk pada kondisi topografinya yang dikelilingi barisan pegunungan besar (seperti Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro) yang melingkar layaknya sebuah gelang raksasa, dengan Gunung Tidar berada persis di bagian tengahnya.
Pusat Pemerintahan Kolonial: Setelah diambil alih oleh kolonial Belanda, Magelang ditetapkan sebagai ibu kota Karesidenan Kedu pada tahun 1818. Kondisi alamnya yang sejuk dan strategis membuat kota ini dikembangkan secara pesat sebagai garnisun militer utama sekaligus sentra bisnis karesidenan.
Legenda dan Cerita Rakyat
Ekspedisi Hutan Kedu: Dalam versi folklor lokal, penamaan kota ini berkaitan dengan kisah Raden Purbaya, utusan Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram yang ditugaskan untuk menaklukkan kawasan Hutan Kedu.
Pertempuran Melawan Jin Sepanjang: Hutan tersebut dikisahkan berada di bawah kendali raja jin bernama Jin Sepanjang yang sering menebar teror dan wabah penyakit kepada warga. Beberapa tokoh pendamping Raden Purbaya seperti Kyai Kramat, Nyai Bogem, dan Tumenggung Mertoyuda gugur saat melawan sekutu jin tersebut. Nama-nama tokoh yang gugur ini kemudian diabadikan oleh masyarakat menjadi nama daerah di Magelang (seperti kelurahan Kramat, Bogeman, dan kecamatan Mertoyudan).
Taktik Pengepungan Melingkar: Untuk menangkap raja jin yang memiliki kesaktian tinggi tersebut, Raden Purbaya memerintahkan pasukannya untuk menerapkan strategi “tepung gelang”. Seluruh prajurit bergerak mengepung rapat dengan formasi melingkar menyerupai sebuah gelang agar musuh tidak bisa lolos. Formasi taktik pengepungan layaknya gelang inilah yang dipercaya oleh masyarakat Jawa setempat sebagai asal mula tercetusnya nama Magelang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *