Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, pernyataan tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Mohsen Rezaei—yang merupakan perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sekaligus sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—dalam pertemuan dengan Duta Besar China untuk Teheran, Cong Peiwu, pada hari Selasa.
Rezaei menegaskan bahwa Washington harus mengakhiri perang melawan Iran dan mencairkan aset Iran yang dibekukan, sembari juga menyerukan penghentian perang di wilayah lain di kawasan tersebut, khususnya di Jalur Gaza dan Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran telah menyampaikan syarat-syarat tambahan kepada Washington melalui pihak perantara.
Pernyataan Rezaei semakin memperjelas posisi Teheran terkait negosiasi mengenai Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis. Menurut pejabat Iran tersebut, setiap potensi kesepakatan antara Teheran dan Oman mengenai jalur pelayaran yang melintasi selat itu harus dipandang terpisah dari persoalan yang lebih luas, yakni apakah Selat Hormuz itu sendiri akan dibuka kembali.
Komentarnya ini menyusul pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, yang pada hari Senin mengatakan bahwa Iran menganggap penutupan selat tersebut sebagai respons wajar atas penggunaannya dalam serangan terhadap negara itu.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada situasi dan persyaratan Iran,” ujar Baghaei, seraya menambahkan bahwa “selama perang masih berlangsung, kami tidak akan mengizinkan pelayaran melintasi selat tersebut.”
Iran dan Oman telah melakukan pembahasan mengenai pengaturan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, sementara Teheran berulang kali menegaskan bahwa negosiasi tersebut bersifat bilateral dan bukan merupakan negosiasi dengan Washington.
Rezaei menyampaikan pernyataan tersebut dalam pembicaraan dengan Duta Besar China untuk Teheran, Cong Peiwu, dengan mengaitkan syarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam konteks pembahasan yang lebih luas mengenai perang regional dan keamanan maritim.
Cong menegaskan kembali sikap Beijing yang menentang serangan militer terhadap Iran serta menyatakan dukungan Tiongkok bagi penguatan hubungan antarnegara di Asia Barat dan kawasan Teluk. Pertemuan ini berlangsung di tengah sikap Iran yang bersikeras bahwa pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut tidak dapat dipisahkan dari konflik regional yang lebih luas.
Komentar Rezaei memiliki arti penting menyusul penunjukannya pekan ini sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus sebagai perwakilan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei di lembaga tersebut. Usai penunjukannya, Rezaei menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi salah satu periode paling krusial dalam sejarah modernnya dan menegaskan bahwa Teheran “tidak akan mundur dalam menghadapi ancaman apa pun terhadap hak dan kepentingan rakyatnya.”
Pada Senin, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menuntut kompensasi dari Iran atas kematian dan cedera yang terkait dengan berbagai konflik dan serangan selama beberapa dekade terakhir. Pernyataan ini muncul setelah Iran pekan lalu mengajukan tuntutan baru terkait ganti rugi perang dan menegaskan tidak akan membuka kembali selat tersebut sampai Washington memenuhi syarat-syarat politik dan ekonominya.
Para ahli menilai bahwa negosiasi perdamaian yang lebih luas antara kedua negara kecil kemungkinannya untuk dimulai kembali sebelum masalah Selat Hormuz terselesaikan.
“Posisi kedua belah pihak semakin berjauhan,” lapor Aljazirah dari Teheran. “Mereka kian menjauh terkait kemungkinan tercapainya penyelesaian diplomatik apa pun.”
Perkembangan terbaru ini mengancam akan semakin mempersulit pembicaraan antara Teheran dan Oman mengenai pengelolaan selat tersebut di masa depan, meskipun sebelumnya baik Iran maupun AS telah mengisyaratkan keinginan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.
Trump menyatakan bahwa Iran harus membayar kompensasi bagi orang-orang yang tewas atau terluka parah akibat tindakan Iran. “Kami akan meminta ganti rugi atas kerusakan yang mereka sebabkan selama kurun waktu 50 tahun,” ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih. “Jadi, jika ada ganti rugi yang harus dibayarkan, menurut saya Iranlah yang harus membayarnya.”
Selanjutnya, melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, pemimpin AS tersebut menyatakan bahwa Iran harus memberikan kompensasi kepada keluarga dari 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan di Yaman pada Oktober 2000 yang menargetkan kapal Angkatan Laut USS Cole—sebuah serangan yang sebenarnya dikaitkan dengan al-Qaeda, bukan Iran.
Ia juga menuntut kompensasi bagi keluarga para pengunjuk rasa Iran yang tewas dalam kerusuhan anti-pemerintah pada bulan Januari.
“Selain itu, terkait negosiasi dengan Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami oleh rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!” tulis Trump. Wilayah-wilayah itu belakangan jadi sasaran serangan brutal Israel yang sedianya ikut menyerang Iran bersama AS.





