MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Kampung Jageran, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, memiliki cara unik untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Warga menggelar tradisi Sedekah yang telah berlangsung selama 16 tahun secara konsisten.
Tradisi tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan warga dari berbagai wilayah di Kampung Jageran. Puluhan stan makanan dan minuman berjajar di sepanjang Jalan Jageran RW 08 dan seluruh hidangan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Saat ditemui, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi pelaksanaan Sedekah di Jageran. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya semangat guyub rukun dan gotong royong warga.
“Acara ini luar biasa. Seluruh warga dari ujung jalan sampai ujung depan ini semua keluar. Semua menjajakan masakannya sendiri di tiap-tiap rumah. Ini semuanya luar biasa,” ungkapnya.
Wawan menilai semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga Jageran layak menjadi contoh bagi kampung-kampung lainnya di Kota Yogyakarta. “Guyub rukun masyarakat Jageran ini memang luar biasa. Perlu dicontoh untuk warga-warga lain seperti di RW 08 Jageran ini,” katanya.
Ia juga berharap, kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan perangkat kewilayahan.
Sementara itu, Ketua Panitia Sedekah Jageran, Hanung Subroto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur warga atas berbagai nikmat yang diberikan Tuhan sekaligus menjadi sarana memperkuat gotong royong, kerukunan, kepedulian, dan tali silaturahmi antar warga.
“Sedekah bumi ini merupakan kegiatan rutin. Tahun ini sudah memasuki tahun ke-16. Ini sebagai rasa syukur kami kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas kenikmatan yang diberikan, sehingga kita bisa hidup dalam suasana kemerdekaan di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, semangat sedekah juga menjadi bagian penting dalam menjaga kebersamaan masyarakat. Warga secara sukarela menyumbangkan makanan maupun minuman untuk dibagikan kepada siapa saja yang datang.

Dalam kegiatan tahun ini, panitia mencatat sedikitnya 45 stan yang menyajikan beragam makanan dan minuman. Sementara itu, warga menyebut jumlahnya mencapai sekitar 45 stan yang seluruhnya berasal dari partisipasi masyarakat Mantrijeron.
Salah satu peserta Sedekah Jageran, Sumirah, mengaku telah lama berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Jika sebelumnya ia biasa membuat sotong, kini dirinya memilih menyajikan pukis dengan bentuk yang berbeda dari biasanya.
Sumirah berharap, pelaksanaan Sedekah Jageran ke depan dapat semakin tertata, terutama dalam mekanisme pembagian makanan agar seluruh warga yang hadir mendapatkan bagian secara merata. “Kalau bisa yang mengambil itu antre satu-satu, supaya semuanya dapat dan tidak ada yang dobel. Jadi bisa merata,” imbuhnya.
Menurutnya, Sedekah Jageran bukan sekadar kegiatan membagikan makanan gratis. Tradisi yang telah bertahan selama 16 tahun tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial, menjaga semangat gotong royong, sekaligus merawat kebersamaan warga dalam momentum peringatan kemerdekaan.

Ia menambahkan, keikutsertaan warga dalam Sedekah Jageran tidak bersifat wajib. Warga yang ingin berpartisipasi dipersilakan memberikan makanan sesuai kemampuan dan keikhlasannya. “Yang mau saja. Kalau ada yang pas ke sini kemudian tidak keluar juga tidak apa-apa. Yang penting ikhlas,” katanya.


