Beranda / Politik / PAN soal Prabowo Diapit Jokowi-Gibran: Melenyapkan Spekulasi Keretakan

PAN soal Prabowo Diapit Jokowi-Gibran: Melenyapkan Spekulasi Keretakan

Prabowo-Gibran-Jokowi di Upacara HUT ke-81 RI (Foto: tangkapan layar YouTube)

Jakarta,REDAKSI17.COM – Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menanggapi posisi duduk Presiden Prabowo Subianto yang berada diapit Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Viva mengatakan hal itu adalah biasa.
“Menurut PAN, tempat duduk Presiden Prabowo dan Pak Jokowi adalah hal yang biasa saja, sesuai dengan aturan protokoler kepresidenan dalam acara kenegaraan,” kata Viva Yoga kepada wartawan, Rabu (19/8/2026).

Namun, menurutnya momen tersebut bisa mematahkan spekulasi bahwa mereka memiliki hubungan yang renggang. Viva menilai momen itu justru memperlihatkan kegembiraan politik.

“Kehadiran Pak Jokowi yang duduk berdampingan dengan Presiden Prabowo dalam suasana penuh kegembiraan telah melenyapkan spekulasi politik yang menafsirkan adanya keretakan hubungan,” ujarnya.

Viva menilai kebersamaan para pemimpin dalam momentum peringatan kemerdekaan merupakan contoh politik yang sehat. Menurutnya, perbedaan politik tidak seharusnya menghilangkan persahabatan antarpemimpin.

“Bagi PAN, jika para pemimpin bisa duduk bersama, berdialog, tersenyum dan menunjukkan suasana persahabatan di tengah peringatan kemerdekaan, itu adalah contoh politik yang sehat penuh dengan kebijaksanaan,” tutur Viva.

Dia mengatakan masyarakat tentu akan senang apabila para pemimpinnya kompak, menjaga persahabatan, dan tetap saling bertegur sapa. Para pemimpin, lanjutnya, juga harus memberikan teladan kepada masyarakat.

“Rakyat pasti senang jika para pemimpinnya kompak, menjaga persahabatan, dan saling bertegur-sapa. Pemimpin mesti memberikan suri keteladanan bagi masyarakat,” katanya.

Viva menegaskan perbedaan warna dan aliran politik merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh sampai merusak persatuan nasional.

“Keperbedaan warna politik dan aliran pemikiran politik bagi masyarakat Indonesia adalah suatu keniscayaan, taken for granted. Tetapi tidak boleh merusak integrasi nasional, kohesivitas sosial, dan cita-cita kemerdekaan,” ucapnya.

Dia mengingatkan kembali semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip kebangsaan yang harus terus dirawat.

“Berbeda-beda tetap satu adalah doktrin kebangsaan yang harus dirawat sepanjang masa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Viva menilai masyarakat tidak membutuhkan elite politik yang terus terlibat dalam pertengkaran. Masyarakat justru membutuhkan pemerintahan yang bekerja, situasi politik yang stabil, demokrasi yang sehat, serta pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

“Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan elite yang terus-menerus bertengkar. Rakyat membutuhkan pemerintah yang bekerja, politik yang stabil, demokrasi yang sehat, ekonomi yang tumbuh, dan kesejahteraan yang meningkat,” ujarnya.

Sebelumnya, momen tersebut terjadi saat Prabowo selesai memimpin upacara HUT ke-81 RI di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026). Setelah memimpin upacara, Prabowo duduk ke kursinya.

Gibran tampak memakai baju adat Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan Jokowi memakai baju adat Bali. Kursi Prabowo tepat berada di tengah. Sisi kanan Prabowo adalah kursi Jokowi dan di sisi kiri Prabowo itu Gibran Rakabuming.

Ketiganya terlihat sempat berbincang bersama. Tampak Prabowo, Jokowi, dan Gibran juga tertawa bersama. Ketiganya pun menonton bersama demonstrasi pesawat tempur. Sesekali ketiganya bertepuk tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *