Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menerima kunjungan kerja Pemerintah Kota Bengkulu di Ruang Nakula, Balai Kota Yogyakarta, Senin (24/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pengembangan kota, mulai dari penguatan potensi wisata dan budaya hingga penataan infrastruktur pendukung perkotaan.
Wakil Wali Kota Bengkulu, Ronny Pebriyanto L. Tobing, mengatakan Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki banyak hal untuk dipelajari, terutama dalam mengembangkan potensi sejarah, budaya, religi, dan pariwisata.
“Ya, dalam rangka ini pertama silaturahmi. Kemudian memang diskusi tentang kemajuan-kemajuan yang ada di Jogja. Ini adalah tempat yang memang wajib untuk dicontoh,” ujarnya.
Menurutnya, Kota Bengkulu memiliki karakteristik yang cukup mirip dengan Yogyakarta karena sama-sama memiliki berbagai peninggalan sejarah dan budaya serta potensi wisata. Karena itu, Pemkot Bengkulu terus melakukan pembelajaran dari Yogyakarta untuk mengembangkan kotanya.
Ronny mencontohkan salah satu upaya yang terinspirasi dari Yogyakarta adalah pengembangan kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan wisata di Kota Bengkulu.
“Sekarang kami sudah membikin salah satu contoh di Jogja. Kalau di Jogja itu ada Jalan Malioboro, kalau di Kota Bengkulu ada namanya Belungguk Poin. Nah, ini yang menjadi tempat kami belajar pada waktu di Jogja dan kami jalankan di Kota Bengkulu,” jelasnya.
Pengembangan kawasan wisata, menurut Ronny, tidak hanya berkaitan dengan penyediaan ruang publik dan daya tarik wisata, tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai aspek agar wajah kota semakin tertata dan mampu memberikan pengalaman yang baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Hal inilah yang kemudian turut menjadi bagian dari pembahasan antara Pemkot Bengkulu dan Pemkot Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan kunjungan tersebut membuka peluang kolaborasi di sejumlah bidang. Salah satu peluang kerja sama yang dibahas adalah bidang desain industri. Wawan menyebut Pemkot Bengkulu tertarik menjajaki sinergi dengan Yogyakarta melalui keberadaan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN).
“Jadi Jogja kan punya PDIN. Nah, diharapkan kita bisa ada sinergi, kolaborasi dengan Bengkulu, yang mana di sana juga kotanya hampir sama persis. Jadi di sana juga kota wisata dan juga banyak tempat-tempat sejarah ataupun budaya yang persis kota,” katanya.
Menurut Wawan, penguatan desain dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi kota, termasuk dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan karakteristik Bengkulu yang juga memiliki potensi sejarah, budaya, dan wisata, pengalaman Yogyakarta di bidang desain diharapkan dapat menjadi salah satu referensi untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah.
Selain pengembangan potensi kota dari sisi wisata, budaya, dan desain, kunjungan tersebut juga membahas aspek pendukung yang semakin penting dalam penataan kota, yakni infrastruktur digital. Dalam hal ini, Pemkot Bengkulu mempelajari penerapan sistem ducting yang telah dikembangkan di Kota Yogyakarta.
Wawan menjelaskan, melalui sistem tersebut kabel fiber optik dan jaringan utilitas yang sebelumnya berada di ruang udara secara bertahap ditata melalui jalur bawah tanah. Penataan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang kota yang lebih tertib sekaligus mendukung kebutuhan infrastruktur digital.
“Jadi yang sudah dilakukan di Kota Yogyakarta yang mana kabel-kabel fiber atau itu sudah dipindah semuanya pakai bawah tanah. Nah, ini yang harapannya Bengkulu juga akan sama dilakukannya, program ducting,” ungkapnya.
Pertukaran pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kota tidak berdiri sendiri. Penguatan destinasi wisata dan ruang publik berjalan beriringan dengan pengembangan desain, ekonomi kreatif, serta penataan infrastruktur yang mendukung kenyamanan dan aktivitas masyarakat.


