YOGYAKARTA,REDAKSI17.COM — Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta bersama penggiat Fashion On the Street resmi menggelar pameran batik kontemporer bertajuk Contemporary Art Batik Evolution di Java Villa Hotel dan Resto. Berlangsung pada 21–23 Agustus 2026, ajang yang menjadi rangkaian Fashion on The Street Festival Prawirotaman ini dihadirkan untuk membangkitkan kembali identitas sejarah Prawirotaman sebagai kampung batik legendaris di Kota Gudeg.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) ini turut mendukung perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta sekaligus memperkuat agenda prioritas Yogya Kota Festival.

Regenerasi Pembatik Muda dan Penguatan Ekosistem Kreatif

Pameran ini menampilkan karya-karya batik kontemporer hasil kreasi 25 pembatik muda binaan fashion designer senior Yogyakarta, Lia Mustafa, bekerja sama dengan Dekranasda DIY dan Bank Indonesia. Selain kain batik kontemporer, pameran juga memajang karya seni masker dari berbagai seniman lokal Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, memberikan apresiasi tinggi atas keberanian para pembatik muda dalam mengeksplorasi desain dan motif baru tanpa meninggalkan akar budaya.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena membuat anak-anak muda menjadi lebih berani mengkreasikan batik dan menciptakan desain-desain baru. Ini bisa menjadi cikal bakal yang kita kembangkan di seluruh Kota Yogyakarta,” ujar Wawan di sela-sela FGD.

Wawan menekankan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang borderless (tanpa batas administratif) dengan mengintegrasikan seniman, pelaku industri kreatif, serta sektor perhotelan di kawasan Prawirotaman. Langkah ini dinilai strategis mengingat Prawirotaman telah lama dikenal di kancah internasional sebagai kampung turis.

Pemberdayaan Warga Lokal di Kampung Batik

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menjelaskan bahwa Prawirotaman memiliki histori kuat yang mengawinkan identitas kawasan hunian wisatawan asing (bule) dengan industri batik lokal.

“Semua masyarakat harus memberikan yang terbaik untuk kotanya. Jangan sampai penduduk authentic atau warga asli hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri di kota pariwisata. Oleh karena itu, pemberdayaan pembatik, pengrajin, dan pelaku kriya ini mulai kita perhatikan secara serius,” tegas Daning.

Sementara itu, penggagas acara Lia Mustafa mengungkapkan bahwa keberadaan pembatik di kawasan Prawirotaman saat ini kian menyusut. Pameran Contemporary Art Batik Evolution menjadi media apresiasi agar karya para perajin muda tidak berhenti pada komoditas komersial semata, melainkan berkembang menjadi karya seni bernilai tinggi.

“Ke depan, siapa yang akan meneruskan jejak seniman besar seperti Bapak Ardianto atau Bapak Afif Syakur kalau tidak kita mulai dari sekarang? Ketika karya mereka diapresiasi, dampak ekonominya terhadap industri kreatif akan jauh lebih besar,” pungkas Lia.