Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta menyiapkan program Gerakan Masyarakat Mencintai Pasar (GEMATI PASAR) sebagai rangkaian memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta. Program belanja berhadiah tersebut akan berlangsung selama satu bulan dan diarahkan untuk mendorong masyarakat berbelanja di pasar rakyat sekaligus memperluas penggunaan transaksi nontunai.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengatakan GEMATI PASAR menjadi upaya untuk mengajak masyarakat semakin mencintai pasar rakyat yang merupakan salah satu penggerak ekonomi kerakyatan.

“Pasar adalah dasar ekonomi kerakyatan. Karena itu, di hari ulang tahun Kota Yogyakarta kami akan menyelenggarakan Gerakan Masyarakat Mencintai Pasar ini selama satu bulan,” ujar Ambar.

Gemati Pasar rencananya melibatkan pasar rakyat di Kota Yogyakarta dengan mekanisme belanja berhadiah. Setiap transaksi menggunakan QRIS senilai minimal Rp20.000 akan mendapatkan satu nomor undian. Nomor undian tersebut diperoleh melalui pencatatan secara digital menggunakan Google Form yang disediakan link QR Code nya di area pasar maupun kios dan los pedagang.

Kepala UPT Pusat Bisnis Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Agung Dini Wahyudi Soelistyo, mengatakan jumlah pedagang yang terlibat masih dalam tahap pematangan. Namun, dengan asumsi sekitar 20 pasar berpartisipasi aktif dan setiap pasar memiliki 20-30 pedagang peserta, jumlahnya berpotensi mencapai lebih dari 500 pedagang.

“Kalau asumsi kita mungkin lebih dari 20 pasar bisa ikut serta. Per pasar yang kecil mungkin ada sekitar 20 sampai 30 pedagang. Sedangkan pasar yang besar seperti Beringharjo bisa lebih dari 100 pedagang. Jadi mungkin bisa lebih dari 500 pedagang yang bisa ikut,” jelas Agung saat dikonfirmasi, Jumat (14/8).

Menurutnya, program ini memiliki cakupan transaksi yang lebih luas karena tidak membatasi QRIS berdasarkan bank tertentu. Pedagang yang telah menggunakan QRIS dari berbagai perbankan dapat mengikuti program selama transaksi dilakukan secara nontunai.

Hal tersebut sekaligus menjadi pembeda Gemati Pasar dengan program promosi pasar sebelumnya. Jika program sebelumnya dilakukan melalui kerja sama dengan perbankan tertentu dan cakupannya terbatas, Gemati Pasar diarahkan untuk mengakomodasi seluruh QRIS yang digunakan pedagang di pasar rakyat.

“Harapannya semua bisa beradaptasi dengan digitalisasi keuangan. Dengan adanya bentuk apresiasi dalam bentuk undian berhadiah, pengunjung maupun pedagang juga bisa mengutamakan transaksi nontunai,” katanya.

Agung menjelaskan, nilai minimal transaksi sengaja ditetapkan lebih rendah dibandingkan program sebelumnya. Transaksi Rp20.000 berlaku kelipatan. Penetapan nominal tersebut mempertimbangkan karakteristik transaksi di berbagai pasar rakyat. Menurutnya, transaksi di pasar seperti Beringharjo cenderung memiliki nilai lebih besar, sedangkan transaksi di pasar rakyat lainnya bisa lebih kecil.

“Sekarang Rp20.000 supaya semakin banyak transaksi yang bisa kita record. Kalau transaksi Rp100.000 nanti dapat lima nomor undian. Jadi semakin besar peluangnya mendapatkan hadiah,” ungkapnya.

Selain mendorong transaksi, sistem tersebut diharapkan membuat digitalisasi pembayaran lebih inklusif bagi pedagang pasar rakyat. Masyarakat juga mendapatkan insentif tambahan untuk memilih pembayaran nontunai karena setiap transaksi berhak memperoleh nomor undian.

Untuk hadiah, Dinas Perdagangan telah menyiapkan sejumlah pilihan. Rencananya berupa smartphone, sepeda, tabungan, dan voucher belanja. Jumlah serta nilai hadiah akan disesuaikan dengan keseluruhan konsep program dan angka 270 yang menjadi identitas HUT ke-270 Kota Yogyakarta.

Sementara itu, rencana pelibatan pasar modern dan ritel dalam Gemati Pasar masih dalam tahap pembahasan. Agung mengatakan, perluasan cakupan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan gerakan, sedangkan Dinas Perdagangan akan tetap memfokuskan pelaksanaan Gemati Pasar pada pasar rakyat.

Di sisi lain, Dinas Perdagangan belum menetapkan target peningkatan omzet pedagang karena Gemati Pasar merupakan program perdana dengan konsep dan cakupan yang berbeda dari kegiatan sebelumnya.

Agung menyebut program terdahulu seperti Beringharjo Great Sale (BGS) memiliki cakupan pasar dan pola pelaksanaan yang berbeda. Pada 2024, kegiatan tersebut hanya berlangsung di Pasar Beringharjo, sedangkan tahun berikutnya diperluas ke lima pasar. Karena itu, belum tersedia tolok ukur yang dapat digunakan untuk menetapkan target peningkatan omzet Gemati Pasar.

Meski demikian, Dinas Perdagangan berharap Gemati Pasar tidak berhenti sebagai kegiatan dalam rangka HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Program tersebut berpeluang dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan promosi pasar yang digelar secara berkelanjutan.

“Ini kita coba. Karena dampaknya kepada pasar sudah terlihat dari event-event sebelumnya. Mungkin Gemati Pasar ini sebagai bentuk event kota seperti Festival Angkringan dulu. Jadi mungkin kita buat beberapa seri, tidak sekali saja, mungkin ada lanjutan juga di tahun berikutnya,” kata Agung.

Melalui Gemati Pasar, Dinas Perdagangan tidak hanya menargetkan peningkatan aktivitas transaksi selama program berlangsung, tetapi juga ingin memperkuat promosi pasar rakyat, mendorong transparansi transaksi pedagang, serta memperluas kebiasaan pembayaran digital di pasar.