Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X berkesempatan melihat langsung karya-karya seniman disabilitas yang dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 pada Senin (28/09) sore. Dalam pameran karya yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta ini, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, Sri Paduka menyelami satu per satu karya yang dihadirkan dalam kerangka tema ‘Maneges’.
Berangkat dari kata teges yang berarti jelas, maneges dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai upaya menemukan kejelasan dan kesejatian diri melalui berbagai laku spiritual, hingga sampai pada kesadaran penuh tentang ‘siapa aku’ sesungguhnya. Istilah maneges juga berkaitan dengan rangkaian manekung, maneges, dan manunggal, yang menggambarkan proses perenungan untuk mengenali kesejatian diri sekaligus membangun keselarasan dengan alam.
Dalam konteks disabilitas, maneges dapat dimaknai sebagai menguatnya kesadaran atas posisi dan identitas diri sebagai penyandang disabilitas. Kesadaran tersebut kemudian menjadi pijakan untuk meneguhkan sikap dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai maneges diwujudkan melalui kemampuan para seniman disabilitas untuk melakukan refleksi melalui karya, sekaligus menjaga etos kerja, ketekunan, dan konsistensi dalam berkarya.
Tema Maneges pada Suluh Sumurup Art Festival 2026 juga menjadi bagian dari kesinambungan tema yang diusung dalam tiga tahun sebelumnya, yakni Gegandengan yang bermakna membangun hubungan, Jumangkah yang berarti melangkah bersama, serta Jejer yang dimaknai sebagai upaya menegakkan posisi. Melalui Maneges, festival tahun ini menekankan pentingnya meneguhkan komitmen, memperjelas arah, serta memperkuat gerakan seni disabilitas dalam perkembangan dunia seni di Indonesia.
Suluh Sumurup Art Festival 2026 menampilkan 186 karya dari 132 seniman dengan beragam spektrum disabilitas. Para seniman tersebut berasal dari 13 komunitas, sanggar, sekolah, dan Taman Budaya yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Beragam karya yang hadir memperlihatkan kekayaan dan keluasan ekspresi seni disabilitas, baik melalui material maupun medium yang digunakan. Di tengah keberagaman tersebut, terdapat benang merah yang menyatukan karya-karya itu, yakni cara para seniman merespons situasi yang dihadapi serta keberanian untuk menyampaikan kondisi mereka secara jujur melalui karya.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, tema Maneges diharapkan semakin menegaskan seni disabilitas sebagai bentuk daya kreatif yang tumbuh dari keteguhan para pelakunya dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari itu, seni menjadi ruang bagi para seniman disabilitas untuk terus melangkah, menentukan arah, serta menjaga semangat berkarya tetap hidup di tengah berbagai keterbatasan dan rintangan.
Tak hanya Sri Paduka, pada kesempatan tersebut, turut hadir berkunjung di Suluh Sumurup Art Festival 2026, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Usai berkeliling, Menbud mengapresiasi karya-karya yang ditampilkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026. Menurutnya, karya para seniman disabilitas menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menjadi batas dalam mengekspresikan gagasan, perasaan, maupun pandangan terhadap berbagai persoalan melalui karya seni.
Fadli menyebut, 186 karya dari 132 seniman yang ditampilkan dalam festival tersebut memperlihatkan keragaman tema dan medium. Karya-karya itu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari lukisan, kain, batik, multimedia, hingga instalasi, dengan tema yang beragam, baik yang bersifat personal maupun yang merefleksikan persoalan lingkungan, bencana, hutan, flora, fauna, manusia, hingga keindahan.
Menurut Fadli, keberagaman tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ruang ekspresi budaya yang luas, termasuk melalui karya-karya seniman disabilitas. Ia menilai, meskipun para seniman tersebut menghadapi berbagai keterbatasan, hal itu tidak membatasi kemampuan mereka untuk menciptakan dan mengekspresikan gagasan melalui seni.
“Ini juga mungkin salah satu yang bisa mendukung dalam perihal aspirasi teman-teman disabilitas, yang kaitannya dengan hubungan sosial, kebijakan, dan lain-lain. Mudah-mudahan pameran seperti ini yang sudah dilakukan keempat kalinya ini, bisa terus berlanjut sebagai platform untuk berekspresi dari para seniman disabilitas yang ada. Yang saya dengar ini tadinya hanya di Yogyakarta kemudian berkembang sekarang di seluruh Indonesia. Ini satu perkembangan yang menarik. Artinya kita bisa memajukan kebudayaan secara bersama-sama,” papar Menbud.
Lebih lanjut, Fadli berharap karya-karya seniman disabilitas dapat semakin luas diapresiasi dan menjadi bagian dari koleksi di ruang-ruang galeri maupun koleksi para pencinta dan kolektor seni. Ia menilai, di balik berbagai keterbatasan yang dimiliki, para seniman disabilitas memiliki beragam potensi dan kelebihan yang dapat terus dikembangkan melalui karya.
Humas Pemda DIY





