Beranda / Daerah / Kulon Progo dan Sleman Diprediksi Alami Musim Hujan Pertama

Kulon Progo dan Sleman Diprediksi Alami Musim Hujan Pertama

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim hujan 2026/2027 di DIY, pertama kali akan dialami oleh Kabupaten Kulon Progo bagian utara dan Kabupaten Sleman bagian utara dan tengah. Prediksi awal musim hujan ini akan dialami pada bulan November 2026 sekitar minggu ketiga.

Hal ini disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun dalam Ekspose Informasi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 DIY pada Rabu (30/09). Mamenun menjelaskan, bila dibandingkan dengan awal musim hujan normalnya selama 30 tahun belakangan (1991-2020), prediksi musim hujan 2026/2027 mundur tiga dasarian di seluruh wilayah DIY.

“Mundurnya musim hujan ini merupakan dampak dari El Nino yang juga mengakibatkan terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, termasuk di DIY. Dari pantauan di 103 pos hujan se-DIY, 81 pos di antaranya mengalami HTH ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari. Tercatat daerah dengan HTH terpanjang di DIY terjadi di Pajangan, Kabupaten Bantul yakni 141 hari,” ungkapnya.

Selanjutnya, daerah dengan prediksi awal musim hujan 2026/2027 pada Desember minggu pertama ialah Kulon Progo bagian timur; Kota Yogyakarta; Sleman bagian timur, selatan dan Barat; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian utara. Daerah yang baru akan mengalami awal musim hujan di Desember minggu kedua diprediksi dialami Kulon Progo bagian Barat dan Selatan; Bantul bagian timur, barat, selatan; dan Gunungkidul bagian timur, barat, dan selatan.

“Prediksi durasi musim hujan 2026/2027, kisaran 16-18 dasarian akan dialami Kulon Progo bagian utara. Selanjutnya, 13-15 dasarian di wilayah Kulon Progo bagian barat, timur, dan selatan, Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul dan Gunungkidul,” imbuh Mamenun.

Mamenun menambahkan, prediksi puncak musim hujan 2026/2027 akan terjadi di bulan Februari, di wilayah Kulon Progo bagian utara dan timur; Sleman; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian barat. Sementara daerah yang akan mengalami puncak musim hujan di bulan Maret ialah Kulon Progo bagian barat dan selatan, Bantul bagian selatan, dan sebagian besar Gunungkidul.

Prediksi akhir musim hujan 2026/2027 akan mulai dialami pada April 2027 di minggu pertama untuk wilayah Sleman bagian barat, selatan, dan timur; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara, Kulon Progo bagian timur; dan Gunungkidul bagian utara. Daerah yang diprediksi mengalami akhir musim hujan pada April minggu kedua ialah Sleman bagian utara dan tengah, serta April minggu ketiga akan dialami Kulon Progo bagian utara, barat, dan selatan; Bantul bagian tengah dan selatan; serta Gunungkidul bagian tengah dan selatan.

“Untuk prediksi hujan bulanan di 2026 ini, pada bulan Oktober curah hujan diperkirakan antara 0-50 mm perbulan, atau masuk kategori rendah. Untuk November curah hujan akan berkisar di 51-300 mm perbulan, terkategori rendah hingga menengah. Baru di bulan Desember curah hujan meningkat antara 151-500 mm perbulan, atau kategori menengah hingga tinggi,” paparnya.

Dari data prediksi tersebut, Stasiun Klimatologi DIY merekomendasikan beberapa hal. Untuk sektor pangan, dapat dilakukan penyesuaian jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam yang lebih pendek, serta melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Bagi sektor sumber daya air, dapat dilakukan pemanfaatan air hujan, serta menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga.

“Identifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur juga perlu dilakukan. Selain itu, perlu juga mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan. Dan bagi sektor energi, perlu diatur inflow dan elevasi waduk, serta pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA,” imbuhnya.

Mamenun pun mengungkapkan, rekomendasi bagi sektor lingkungan ialah menyiapkan mekanisme response atas kondisi kualitas udara buruk yang berkepanjangan, akibat mundurnya awal musim hujan. Selain itu, perlu mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan untuk menurunkan kelembaban saat musim hujan.

“Bagi sektor kesehatan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kesus demam berdarah, serta penyakit akibat genangan pasca hujan atau banjir. Sementara di sektor kebencanaan, tetap waspada dengan kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan, serta optimalkan sistem drainase dan kesiapan evakuasi mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal dan puncak musim hujan,” paparnya.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *