Jakarta,REDAKSI17.COM – Cak Imin melontarkan pernyataan bahwa Nahdlatul Ulama terpuruk di era kepemimpinan Gus Yahya karena berlatarbelakang HMI (Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia). Penyataan itu ia sampaikan saat menghadiri acara bedah buku “Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik dan Kemasyarakatan” di Jombang, Jumat (28/8/2026) lalu.
Pernyataan ini langsung direspon oleh Mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI periode 2013-2015, M. Arief Rosyid Hasan, pun angkat bicara. Arief menegaskan, NU bukan milik Cak Imin, bukan milik HMI, bukan pula milik PMII atau kelompok politik tertentu.
Arief Rosyid merupakan kader HMI dan pengurus partai Golkar. Arief dikenal pernyataannya saat membela habis-habisan Bahlil Lahadalia, “Salahpun dibela”. Pernyataan Arief Rosyid disebut paling blunder bahkan sesama kader HMI dicap penjilat kelas ulung.
Arief Rosyid pernah terlibat pemalsuan tandatangan Jusuf Kalla saat menjabat Ketua Dewan Masjid Indonesia. Akibatnya Arief Rosyid dipecat dari Dewan Masjid Indonesia.
Arief Rosyid mengomandoi relawan Fanta. Arief Rosyid pasang badan saat Gibran diserang melalui “SAMSUL. Ia membalikkan makna “Samsul” menjadi singkatan dari “Semakin Sulit Disusul.
Sedangkan cak Imin dikenal politisi ulung tipikal oportunis. Ketum PKB ini cenderung memanfaatkan situasi atau kesempatan yang menguntungkan.
Ketika jadi cawapres Anies serang habis-habisan program Prabowo turunan dari Jokowi. Saat bergabung Prabowo Subianto pernyataan sebalumnya tidak berlaku lagi. Masyarakat mengenal Cak Imin sebagai tipikal mudah Berganti warna asal menguntungkan posisinya.




