JAKARTA,REDAKSI17.COM — Polemik buku Islam Ala Prabowo belum mereda. Kader PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli menilai kontroversi buku tersebut tidak berhenti pada pemilihan judul. Ia menyoroti munculnya pengakuan sejumlah tokoh yang disebut namanya tercantum dalam buku tanpa pernah merasa dilibatkan.
Menurut Guntur, sejak awal judul Islam Ala Prabowo sudah mengundang pertanyaan. Frasa “Islam ala”, kata dia, semestinya merujuk pada corak atau gagasan keislaman yang memang melekat pada seorang tokoh.
“Islam ala siapa? Kebohongan di balik buku Islam ala Prabowo. Judul buku Islam ala Prabowo saja sudah cukup mengundang tanda tanya di kalangan netizen,” ujar Guntur, dikutip fajar.co.id, Selasa, 8 September 2026.
Ia mengatakan istilah “ala” sebenarnya tidak bermasalah jika digunakan untuk menggambarkan corak pemikiran seseorang. Persoalannya adalah apakah ada gagasan keislaman Presiden Prabowo Subianto yang hendak dirangkum melalui buku tersebut.
“Islam ala Prabowo semestinya berarti Islam dengan gaya dan corak pemikiran Prabowo,” kata dia.
Guntur kemudian menyoroti nama tiga tokoh Islam yang disebut tercantum dalam buku tersebut, yakni Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB) atau KH Muhammad Zainul Majdi, dan Prof KH Said Aqil Siradj.
Menurut Guntur, ketiga tokoh itu disebut telah menyatakan tidak pernah dimintai tulisan maupun dilibatkan dalam penyusunan buku.
“Ketiganya menegaskan tidak pernah dilibatkan dan diminta tulisan dalam buku tersebut,” ujarnya.
Ia menilai persoalan itu tidak tepat jika sekadar disebut sebagai kesalahan teknis atau redaksional.
“Ini bukan sekadar kesalahan redaksional. Melainkan pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual,” kata Guntur.
Guntur membandingkan buku tersebut dengan penggunaan istilah “Islam ala” pada tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak pemikiran keislaman.
Ia menyebut KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, hingga Said Aqil Siradj.
Menurut dia, istilah tersebut lebih mudah diterima karena terdapat gagasan dan pemikiran keislaman yang dapat ditelusuri dari tokoh-tokoh tersebut.
“Bandingkan dengan Islam ala K.H. Ahmad Dahlan, Islam ala K.H. Hasyim Ash’ari, atau ala Gus Dur dengan gagasan pribumisasi Islamnya, atau ala KH Aqil Siradj dengan Islam Nusantara,” ujar Guntur.
Ia juga menyinggung Bung Karno. Menurut Guntur, corak pemikiran Islam Soekarno dapat dilihat dari korespondensinya dengan Ustaz Ahmad Hasan.
Dari sana, kata dia, muncul gambaran mengenai pemikiran Islam yang progresif, terbuka, mendukung kemajuan, dan toleran.
Guntur menilai judul Islam Ala Prabowo justru berpotensi menjadi bumerang bagi Presiden Prabowo.
Ia berpendapat Prabowo tidak dikenal publik melalui gagasan atau wacana keislaman seperti tokoh-tokoh yang ia bandingkan.
“Sementara Islam ala Prabowo terkesan dipaksakan karena Presiden Prabowo tidak dikenal dalam wacana keislaman,” katanya.
Polemik semakin rumit setelah muncul persoalan mengenai pencantuman nama tiga tokoh tersebut. Guntur menilai kondisi itu membuat buku tersebut berpotensi kontraproduktif terhadap citra Prabowo.
“Alih-alih Presiden Prabowo mendapatkan poin positif yang ada kritik keras hingga ejekan,” ujar dia.
Guntur kemudian mengingatkan Prabowo agar lebih berhati-hati terhadap pihak yang mengklaim sedang memberikan apresiasi kepada presiden.
Menurut dia, dukungan yang dikemas sebagai penghargaan belum tentu memberikan keuntungan politik. Bisa saja, kata dia, justru menimbulkan persoalan baru bagi orang yang hendak didukung.
“Presiden Prabowo mestinya hati-hati pada segelintir orang yang benar-benar mau memberikan apresiasi dan pengakuan dengan mereka yang ingin menjatuhkan,” kata Guntur.
Polemik buku Islam Ala Prabowo kini tidak hanya menyangkut judul. Perdebatan juga melebar pada pencantuman nama tokoh serta pertanyaan mengenai gagasan yang hendak ditawarkan buku tersebut. (Muhsin/fajar)





