
Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui BPBD memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui penguatan kapasitas masyarakat, sistem peringatan dini, dan edukasi kebencanaan. Langkah ini dilakukan agar masyarakat mampu mengenali ancaman dan mengambil tindakan yang tepat saat bencana terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengatakan kesiapsiagaan mencakup kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Masyarakat perlu memahami potensi ancaman di lingkungannya serta mengetahui cara menyelamatkan diri.
“Kesiapsiagaan itu bagaimana kita membangun ketangguhan, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusianya. Masyarakat harus tahu ancamannya apa dan bagaimana cara menyelamatkan diri,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Kamis (10/9/2026).
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Kampung Tangguh Bencana (KTB). BPBD Kota Yogyakarta telah membentuk KTB di seluruh 169 kampung sebagai wadah penguatan kapasitas masyarakat melalui pengenalan ancaman bencana, pemahaman jalur evakuasi, keterampilan penanganan bencana, penggunaan peralatan penyelamatan sederhana, dan simulasi.
Selain kapasitas masyarakat, ketersediaan data dan informasi menjadi bagian penting dalam penanganan bencana. Informasi yang dihimpun BPBD harus melalui proses verifikasi sebelum disampaikan kepada masyarakat.
“Data itu menjadi jantung dalam penanganan bencana. Informasi harus cepat, akurat, faktual, dan akuntabel. Sehingga kesiapsiagaan bencana ini mencakup kenali bencananya, kenali risikonya, pastikan informasinya, lakukan aksi nyata mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan, tangguh bencana,” pungkas Nur.
Untuk mempercepat peringatan kepada masyarakat, BPBD juga mengoperasikan Early Warning System (EWS) di sejumlah wilayah. Sistem ini terdiri atas perangkat otomatis dan manual. Sistem manual tetap digunakan sebagai antisipasi apabila terjadi gangguan jaringan komunikasi.
Peringatan EWS memiliki empat tingkatan, yakni hijau atau aman, kuning atau waspada, oranye atau siaga, dan merah atau awas. Masing-masing tingkat memiliki karakter bunyi peringatan yang berbeda.
Uji coba sistem terus dilakukan untuk memastikan perangkat berfungsi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat. Pada September 2026, BPBD Kota Yogyakarta menggelar simulasi EWS banjir di sejumlah titik di Sungai Gajah Wong, Kali Belik, Sungai Code, dan Sungai Winongo.
Sejalan dengan itu Ketua Tim Kerja Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta, Grezia Eleganza, mengingatkan masyarakat agar tetap tenang ketika menerima peringatan bencana. Masyarakat perlu memastikan informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan mengikuti arahan petugas.
“Ketika ada peringatan, jangan panik. Pastikan dulu informasinya, kemudian ikuti arahan yang diberikan, termasuk apabila memang harus melakukan evakuasi,” kata Grezia.
Menurut Grezia, edukasi kebencanaan perlu dilakukan berkelanjutan karena kondisi masyarakat terus berubah. Mobilitas penduduk, pendatang, dan wisatawan membuat penyebaran informasi tidak dapat dilakukan hanya sekali. Ancaman yang dihadapi juga berkembang, mencakup bencana alam, nonalam, dan ancaman teknologi.
Di tengah cepatnya arus informasi, masyarakat juga perlu mewaspadai informasi yang belum terverifikasi. Informasi dari lembaga resmi seperti BMKG, BPPTKG, BNPB, dan kanal pemerintah dapat menjadi rujukan untuk memastikan kebenaran informasi kebencanaan.
“Kalau mendapatkan informasi yang belum jelas, jangan langsung panik dan jangan langsung menyebarkan. Periksa sumbernya dan pastikan informasinya benar,” ungkap Grezia.



