Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mendorong pengembangan teknologi pertanian yang mampu menjawab tantangan keterbatasan air dan lahan di Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Endah, penerapan teknologi pertanian hemat air, termasuk sistem aquaponik yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman, menjadi salah satu inovasi yang relevan untuk dikembangkan di tengah kebutuhan efisiensi sumber daya.
“Teknologi seperti ini sangat relevan untuk terus dikenalkan kepada masyarakat, terutama dalam mendorong pemanfaatan lahan secara produktif dan pengembangan pertanian yang lebih hemat sumber daya,” ujar Endah saat membuka pelatihan pengenalan teknologi pertanian hemat air dan aquaponik di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (10/9/2026).
Pelatihan yang digelar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Peternakan tersebut diikuti sekitar 300 peserta. Mereka terdiri atas anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kabupaten Gunungkidul, Petani Milenial Gunungkidul, serta penyuluh pertanian.

Endah mengatakan, inovasi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama ketika sektor tersebut dihadapkan pada persoalan ketersediaan air dan keterbatasan lahan.
Ia menilai, aquaponik dapat menjadi salah satu alternatif karena memungkinkan budidaya ikan dan tanaman dilakukan dalam satu sistem dengan pemanfaatan air secara lebih efisien.
“Keterbatasan lahan maupun keterbatasan sumber daya air bukan menjadi alasan untuk berhenti produktif, tetapi justru menjadi pemicu bagi kita untuk terus berinovasi,” katanya.
“Kami ingin pertanian Gunungkidul semakin inovatif, produktif, adaptif, dan mampu memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” lanjut Endah.
Antusiasme KWT Tinggi
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, pelatihan tersebut pada awalnya dibuka melalui pendaftaran daring dengan sasaran utama Petani Milenial Gunungkidul.
Namun, antusiasme masyarakat, khususnya perempuan dan anggota KWT, ternyata cukup tinggi. Peserta dari kalangan KWT bahkan mendominasi kehadiran dalam kegiatan tersebut.
“Awalnya pendaftaran kami buka secara umum melalui tautan daring dengan target utama Petani Milenial. Tetapi ternyata antusiasme dari ibu-ibu KWT sangat tinggi,” kata Rismiyadi.
Menurut Rismiyadi, tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya kelompok perempuan di sektor pertanian, memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi baru yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga maupun kelompok.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Direktur Easygrow Muji Lestari yang turut memfasilitasi pelaksanaan program serta menghadirkan narasumber utama Mark Sungkar.
Dalam diskusi sebelum kegiatan, Mark Sungkar menyampaikan bahwa Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang sangat besar untuk dikembangkan secara maksimal melalui penerapan teknologi dan inovasi.
Diharapkan Bisa Langsung Dipraktikkan
Bupati berharap materi yang diperoleh peserta dalam pelatihan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat langsung diterapkan di wilayah masing-masing.
Menurutnya, penerapan teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lokal dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan pola pertanian yang lebih efisien dan produktif.
“Harapannya, pengetahuan praktis mengenai aquaponik yang dibagikan hari ini bisa langsung dipraktikkan dan dikembangkan di wilayah masing-masing,” ujar Endah.
Pemkab Gunungkidul, kata dia, akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, petani, kelompok masyarakat, pelaku usaha, penyuluh, serta berbagai pihak untuk menghadirkan inovasi yang mampu memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pengembangan teknologi pertanian hemat air dan aquaponik, Gunungkidul diharapkan mampu membangun sektor pertanian yang semakin adaptif terhadap tantangan lingkungan, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.


