Gunungkidul,REDAKSI17.COM — Kepyakan Gotong Royong di Kapanewon Wonosari resmi dimulai, Kamis (10/9/2026). Kegiatan yang dilaksanakan serentak di 14 kalurahan ini difokuskan pada pembangunan infrastruktur mitigasi bencana untuk mengurangi risiko banjir dan tanah longsor, sekaligus memperkuat semangat gotong royong masyarakat.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat membuka kegiatan di Kalurahan Karangrejek mengatakan, kepyakan gotong royong menjadi bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, TNI, dan Polri dalam menjawab kebutuhan pembangunan di tingkat masyarakat.
Bupati Gunungkidul, menekankan pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterbatasan anggaran infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir membuat kolaborasi dan partisipasi masyarakat menjadi semakin penting.
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh partisipasi dan kepedulian seluruh masyarakat,” ujarnya.
14 Kalurahan Bergerak Bersama
Panewu Wonosari Dwi Windarsih melaporkan, seluruh persiapan Kepyakan Gotong Royong di Kapanewon Wonosari telah selesai. Material stimulus fisik telah tersedia dan berada di masing-masing lokasi pekerjaan di 14 kalurahan.
Pekerjaan yang dilaksanakan merupakan hasil perencanaan dan survei lapangan bersama Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPU PRKP) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul.

Terdapat tiga jenis pekerjaan utama yang dilakukan, yakni talut pasangan batu, saluran drainase, dan jalan beton.
Pembangunan talut pasangan batu dilaksanakan di Kalurahan Karangrejek, Mulo, dan Wunung. Saluran drainase dibangun di Kalurahan Karang Tengah, Duwet, dan Wareng.
Sementara itu, pembangunan jalan beton dalam bentuk full block maupun double track dilaksanakan di Kalurahan Piyaman, Gari, Wonosari, Wareng, Pulutan, Siraman, Kepek, Baleharjo, dan Selang.
“Secara keseluruhan, material telah berada di lokasi masing-masing kalurahan. Personel serta masyarakat telah terorganisir dan administrasi teknis, termasuk dokumen RAB dan desain dari DPU, telah terverifikasi secara lengkap,” kata Dwi.
Pelaksanaan pekerjaan melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah kalurahan, kapanewon, serta masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan membuat kegiatan tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
Bupati Dorong Penanganan Sedimentasi Sebelum Musim Hujan
Dalam pembukaan kegiatan ini, Bupati Endah juga meminta agar momentum musim kemarau dimanfaatkan untuk mempercepat penanganan sedimentasi sungai di sejumlah wilayah rawan banjir.
Ia meminta BPBD segera mengidentifikasi kalurahan yang memiliki riwayat luapan sungai akibat sedimentasi. Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi DPU untuk menyiapkan penanganan di lapangan.
“Jangan sampai setelah bencana banjir baru kita bergerak. Mumpung kemarau panjang dan alat berat lebih mudah masuk, sedimentasi harus segera ditangani,” tegasnya.
Menurutnya, langkah antisipatif penting dilakukan mengingat sejumlah wilayah Gunungkidul memiliki sungai yang berpotensi meluap saat curah hujan meningkat.
“Jangan sampai setelah bencana kekeringan, kita menghadapi bencana banjir. Momentum kemarau ini harus kita manfaatkan untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.
Dorong Kepyakan Gotong Royong Berbasis Padukuhan
Bupati Endah juga menyampaikan rencana untuk memperluas pola Kepyakan Gotong Royong pada tahun mendatang. Jika pelaksanaan saat ini berbasis kalurahan, pemerintah daerah akan mendorong agar pada 2027 kegiatan serupa dapat menyasar hingga tingkat padukuhan.
“Nanti seluruh padukuhan silakan memetakan titik-titik mana yang paling urgen untuk segera ditangani,” kata Endah.
Ia mengatakan, pola tersebut akan memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk menentukan kebutuhan pembangunan yang paling mendesak di lingkungannya. Aspirasi dapat dikoordinasikan bersama pemerintah kalurahan dan anggota DPRD sesuai daerah pemilihan masing-masing.
Dukungan pembangunan juga akan diarahkan pada infrastruktur yang berkaitan dengan mitigasi bencana, termasuk jalan usaha tani dan akses menuju kawasan pertanian.
Bupati juga mendorong agar peningkatan kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD dapat diikuti dengan penguatan infrastruktur di kawasan wisata, termasuk perbaikan akses jalan menuju destinasi.
Tidak Berhenti sebagai Kegiatan Seremonial
Bupati menegaskan, Kepyakan Gotong Royong di Kapanewon Wonosari harus menjadi gerakan yang terus hidup di tengah masyarakat dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Jangan sampai kegiatan ini berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang terus hidup di setiap kalurahan, padukuhan, dan lingkungan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, gotong royong tidak hanya menyelesaikan persoalan pembangunan fisik, tetapi juga membangun rasa memiliki, mempererat persaudaraan, dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
“Dengan kebersamaan, berbagai persoalan akan lebih ringan kita selesaikan dan berbagai potensi akan lebih mudah kita kembangkan,” ujar Endah.
Kepyakan Gotong Royong di Kapanewon Wonosari selanjutnya dilaksanakan secara serentak di 14 kalurahan dengan melibatkan masyarakat dan unsur TNI-Polri. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama membangun Wonosari yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana sekaligus memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat.


