JAKARTA,REDAKSI17.COM — Pegiat media sosial, Chusnul Chotimah coba memprediksi terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.
Lewat salah satu cuitan di akun media sosial X pribadinya, Chusnul Chotimah coba memprediksi tokoh-tokoh yang didorong dari Partai yang siap bersaing di Pilpres 2029 ini.
Yang pertama diprediksi datang dari Partai PDI Perjuangan yang disebutnya ada tiga tokoh besar politiknya yang bisa saja didorong.
Menurutnya PDIP kemungkinan besar akan mendorong nama seperti Puan Maharani, Ganjar Pranowo, hingga Pramono Anung.
“Begini Dengan Puan atau Ganjar atau Pramono Anung, dapat PDIP,” tulis Chusnul dikutip Jumat (11/9).
Nah, sementara untuk Partai Demokrat disebutnya kemungkinan ada satu nama yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dan dari PSI ada Wakil Presiden saat ini Gibran Rakabuming Raka.
“Dengan AHY, dapat Demokrat. Dengan Gibran, cuma PSI,” tuturnya.
Siapa yang Dipilih Prabowo?
Dari nama-nama ini, ada pertanyaan besar darinya soal siapa kandidat paling kuat yang akan menjadi pasangan dari Prabowo Subianto.
“Kira-kira siapa yg dipilih Prabowo?,” sebutnya.
Ada harapan besar darinya, dimana Prabowo Subianto bisa berpasangan dengan AHY di Pilpres 2029 mendatang nantinya.
Sementara untuk PDI Perjuangan bisa mengirim calon Presidennya sendiri untuk maju dan bertarung.
“Aku sih berharap dia dgn AHY, biar PDIP capres sendiri. Gibran nggak ada yg ajak.,” harapnya.
Dukungan PDIP
Politikus PDIP Deddy Yevri Sitorus menilai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) belum memiliki dukungan kuat untuk melangkah ke Pemilu 2029.
Berdasarkan sejumlah hasil survei, elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat itu disebut masih tertinggal dari tokoh lain, termasuk KDM dan Presiden Prabowo Subianto
“Bagaimana peluang AHY saya kurang tahu tetapi kalau melihat survei, beliau perlu kerja sangat keras untuk mengejar ketertinggalan.”
“Terutama untuk mengejar ketertinggalan terhadap berbagai tokoh yang sudah muncul dalam radar survei, seperti KDM dan Prabowo sendiri,” kata Deddy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Penilaian itu disampaikan Deddy setelah AHY menyinggung kekuasaan yang tidak berlangsung selamanya dan memiliki batas waktu.
Pernyataan tersebut dinilai membawa pesan politik tertentu, terlebih disampaikan dalam pidato peringatan 25 tahun Partai Demokrat.
Deddy membaca ucapan AHY sebagai sinyal bahwa Partai Demokrat mulai memikirkan peta politik menuju Pemilu 2029.
Pesan itu dinilainya bisa ditujukan kepada partai-partai dalam koalisi pemerintah, bahkan kepada Presiden.
“Dilihat dari sudut pandang kontestasi politik, bisa saja ditafsirkan bahwa pernyataan itu adalah seruan kepada koalisi partai di pemerintahan untuk mulai memikirkan peta jalan baru menuju Pemilu 2029. Atau, bisa juga diinterpretasikan sebagai pesan khusus kepada Presiden agar menghitung AHY/Demokrat dalam kontestasi pemilu yang akan datang,” ungkap Deddy.





