SOLO,REDAKSI17.COM – Aksi puluhan orang yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) di depan kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, menjadi perhatian di media sosial X.
Selain aksi massa, sejumlah poster berisi kritik terhadap Jokowi turut beredar di media sosial. Salah satu tulisan yang mencuri perhatian yakni poster bertuliskan “Jokowi Perusak PDI-P”.
Poster tersebut kemudian mendapat respons dari Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama. Ia mempertanyakan dasar munculnya narasi yang menyebut Jokowi sebagai pihak yang merusak PDI-P.
Dian membandingkan tudingan tersebut dengan posisi PDI Perjuangan (PDIP) yang masih memiliki kekuatan politik besar di parlemen.
“Ada masa yang demo depan rumah Pak J di Solo,” ujar Dian, dikutip fajar.co.id, Jumat (11/9/2026).
Dian kemudian menyoroti salah satu poster yang dibawa massa ARIB.
“PDIP masih berdiri sebagai Parpol dengan kursi Senayan terbanyak, kok mereka tulis Jokowi perusak PDIP,” tukasnya.
Ia kembali mempertanyakan kondisi internal PDIP yang menjadi dasar munculnya tudingan tersebut.
“Emang udah rusak?,” tandasnya.
Puluhan Massa Datangi Rumah Jokowi
Aksi ARIB berlangsung di sekitar kediaman Jokowi di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, pada Kamis (10/9/2026) siang.
Massa membawa sejumlah perlengkapan aksi, termasuk surat peringatan dan sebuah plakat yang ditujukan kepada Jokowi. Namun, kedua benda tersebut tidak diserahkan secara langsung kepada mantan presiden tersebut.
Surat dan plakat akhirnya diterima anggota Paspampres yang bertugas di sekitar kediaman Jokowi.
Selain membawa surat dan plakat, peserta aksi memasang sejumlah poster yang berisi kritik terhadap Jokowi. Poster-poster tersebut antara lain bertuliskan “Jokowi Jongos Oligarki”, “Jokowi Power Syndrome”, “Jokowi dan Dinasti Haus Kuasa”, “Bubarkan Geng Solo” dan “Dinasti Jokowi”.
Ada pula poster bertuliskan “Jokowi Melanggar Konstitusi”, “Jokowi Pembohong”, hingga “Jokowi Perusak PDI-P”.
Kemunculan berbagai poster tersebut kemudian menjadi salah satu sorotan dari aksi ARIB di depan kediaman Jokowi.
Aksi Sempat Memanas
Situasi di lokasi sempat memanas ketika massa ARIB bergerak menuju Gang Kutai Utara. Di lokasi tersebut, mereka berhadapan dengan kelompok yang disebut sebagai pendukung Jokowi.
Pertemuan kedua kelompok membuat suasana sempat tegang. Aparat keamanan kemudian melakukan langkah pengamanan untuk mencegah terjadinya benturan dan menjaga situasi tetap terkendali.
Setelah kondisi berhasil dikendalikan, massa ARIB kembali melanjutkan penyampaian aspirasi.
Koordinator Aksi ARIB, Bangun Sutoto, mengatakan kedatangan mereka ke kediaman Jokowi berkaitan dengan pernyataan mengenai indikasi makar yang disebut pernah disampaikan Budi Arie.
ARIB, kata Bangun, ingin menyampaikan respons secara langsung kepada Jokowi melalui surat dan plakat yang mereka bawa.
“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk Bapak Jokowi karena menurut kami Bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah kiri saudara Budi Arie yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam,” ujar Bangun.
Bangun menegaskan aksi tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari permusuhan. Menurutnya, kedatangan ARIB merupakan bentuk kepedulian sekaligus peringatan kepada Jokowi.
“Karena itu kepada Bapak Jokowi kami memanusiakan bapak sebagai manusia, kalau orang Jawa bilang nguwongke uwong. Karena itu kami mengingatkan bentuk kepedulian kami kepada NKRI dan juga kepada Bapak Jokowi. Karena itu kami berikan surat peringatan sekaligus plakat filosofi dalam bahasa Jawa ini,” terang dia.
Bangun juga menegaskan bahwa ARIB tidak ingin aksi tersebut berakhir dengan keributan. Ia mengatakan pesan utama yang ingin disampaikan adalah perdamaian dan kecintaan terhadap Indonesia.
“Kami datang untuk kedamaian, kami minta Pak Jokowi cinta NKRI. Jadi kami datang untuk kedamaian, bukan keonaran,” tegas Bangun.
Aksi tersebut berlangsung ketika sejumlah isu politik yang berkaitan dengan Jokowi masih menjadi perhatian publik. Namun, tudingan yang tercantum dalam poster maupun pernyataan peserta aksi merupakan bentuk kritik dan aspirasi massa, bukan fakta yang telah diputuskan melalui proses hukum.





