Jakarta,REDAKSI17.COM – Menurut Endang, kondisi tersebut menunjukkan bahwa PDIP dan PSI bergerak dengan strategi yang berbeda. PDIP tetap bertumpu pada karakter sebagai partai mapan dengan basis ideologis dan jaringan politik yang telah terbentuk lama.
Sementara PSI mencoba mengambil posisi sebagai partai yang merepresentasikan kelompok pemilih muda dan modern, sekaligus mengaitkan citranya dengan Jokowi.
“Kondisi ini menunjukkan adanya diferensiasi strategi, PDIP bergerak sebagai partai mapan dengan akar ideologis dan jaringan luas, sedangkan PSI mencoba membangun citra sebagai partai muda, modern, dan dekat dengan Jokowi,” ujar Endang.
Endang menilai perpindahan atau fragmentasi suara memang mungkin terjadi, terutama di kalangan pemilih perkotaan dan kelompok milenial. Namun, ia tidak melihat kondisi tersebut sebagai ancaman langsung terhadap basis utama PDIP.
Menurut dia, karakter pemilih PDIP relatif lebih berlapis karena ditopang jaringan dan akar politik yang telah lama terbentuk.
“Fragmentasi suara bisa terjadi di segmen pemilih perkotaan dan milenial, tetapi itu lebih berpotensi menggerus partai-partai menengah lain ketimbang PDIP yang basisnya lebih tersebar dan berlapis,” kata Endang.
Karena itu, kenaikan elektabilitas PSI lebih tepat dibaca sebagai munculnya persaingan baru untuk merebut segmen pemilih yang memiliki kedekatan dengan Jokowi, bukan sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan PDIP.
“Kenaikan PSI lebih relevan sebagai fenomena simbolik yang menandai adanya kompetisi baru di segmen pemilih Jokowi, bukan ancaman eksistensial bagi PDIP,” ujarnya.
Di sisi lain, Endang mengatakan PDIP memiliki pekerjaan rumah sendiri untuk mempertahankan basis pemilihnya. Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu dinilai perlu menjaga konsistensi ideologi sekaligus memperkuat narasi politik yang tidak bergantung pada figur tertentu.
“Tantangan bagi PDIP adalah bagaimana menjaga konsistensi ideologi dan memperkuat narasi politik yang independen,” kata Endang.





