Presiden Prabowo Subianto dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026, New Delhi, India. (Antara/Ho/BPMI Sekretariat Presiden)
Jakarta,REDAKSI17.COM – Presiden Prabowo tiba di Indonesia pada Senin (14/9/2026) dini hari setelah menyelesaikan kunjungan kerja di New Delhi, India, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang digelar Sabtu (12/9/2026) hingga Minggu (13/9/2026). Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan tiga pesan utama dari Indonesia.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Prabowo menghadiri KTT BRICS 2026 sebagai anggota penuh. Dalam forum internasional yang mengangkat tema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” tersebut, Prabowo menekankan tiga pesan utama.
Berdasarkan keterangan tertulis Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, tiga pesan yang disampaikan Prabowo dalam sesi terbatas KTT BRICS 2026 ialah terkait pentingnya kemandirian nasional, memperkuat persatuan negara-negara Global South, serta meningkatkan kerja sama di antara negara anggota BRICS.
Pesan pertama berkaitan dengan pentingnya kemandirian dan ketahanan nasional. Menurut dia, kekuatan suatu negara berawal dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, terutama pangan, energi, dan pendidikan.
“Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ungkap Seskab Teddy dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari Antara, Senin (14/9/2026).
Ketahanan di sektor pangan, energi, dan pendidikan tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Ketiga sektor tersebut juga dipandang sebagai modal bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan serta memperjuangkan kepentingan nasional secara mandiri.
Pesan kedua yang disampaikan Prabowo adalah pentingnya memperkuat persatuan negara-negara Global South. Orang nomor satu di Indonesia itu menekankan negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri.
Sementara itu, pesan ketiga Prabowo menekankan perlunya mengubah besarnya potensi BRICS menjadi kerja sama yang konkret. BRICS saat ini mewakili sekitar separuh populasi dunia sehingga kekuatan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memberikan manfaat lebih besar bagi negara-negara berkembang.
“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutup pernyataan tersebut.




