Kotabaru Heritage Film Festival 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Cara Baru Menikmati Warisan Budaya Yogyakarta

Gondoksuman.REDAKSI17.COM-Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi dibuka pada Kamis, (17/9/2026). Festival film yang mengangkat keterkaitan antara sinema, warisan budaya, dan kehidupan masyarakat ini menawarkan pendekatan berbeda dalam memperkenalkan serta menghidupkan kembali kawasan heritage di Kota Yogyakarta.

Acara ini dibuka oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Ia pun menyampaikan bahwa KHFF menjadi ruang yang menarik untuk memperkenalkan warisan budaya melalui cara yang lebih dekat dengan perkembangan zaman, khususnya melalui film dan kreativitas generasi muda.

Menurutnya salah satu hal yang menarik dalam penyelenggaraan KHFF 2026 adalah hadirnya program Becak Drive-In Cinema. Melalui program tersebut, penonton tidak hanya datang ke lokasi pemutaran film, tetapi terlebih dahulu diajak menyusuri kawasan Kotabaru menggunakan becak listrik.

Setelah berkeliling, para penonton kembali menuju Pasar Terban untuk menyaksikan film dari atas becak.

“Biasanya orang datang ke bioskop, duduk di kursi, lalu menonton layar. Di sini kursinya becak. Bahkan sebelum menonton, becak membawa kita lebih dulu menikmati kota, terutama kawasan Kotabaru dan Kelurahan Terban ini,” ungkapnya.

Wawan menilai konsep tersebut sederhana, namun memiliki karakter yang sangat kuat dengan identitas Jogja. Becak yang selama ini dikenal sebagai salah satu kendaraan khas kota dipadukan dengan teknologi listrik, film, generasi muda, serta kawasan cagar budaya.

Ia mengungkapkan perpaduan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana konsep living heritage atau warisan budaya yang hidup dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Becak adalah contoh yang sangat baik. Bentuk dan nilai budayanya kita pertahankan, namun ia dapat beradaptasi dengan teknologi melalui tenaga listrik. Kemudian dalam festival ini, becak bertemu lagi dengan film, generasi muda, dan kawasan cagar budaya,” ujarnya.

Selain becak, pemilihan lokasi di Pasar Terban sebagai salah satu ruang dalam festival juga memiliki makna penting. Menurutnya pasar tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat yang menyimpan cerita dan ingatan mengenai kehidupan kota.

“Pasar tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi. Di dalamnya ada perjumpaan, cerita warga, serta ingatan tentang kehidupan kota. Ketika pasar menjadi ruang pemutaran film, kita melihat bahwa ruang budaya bisa hadir sangat dekat dengan keseharian masyarakat,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan KHFF kali ini digelar selama tiga hari hingga Sabtu 19 September mendatang.

“Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang berfokus pada selebrasi keragaman ekspresi budaya, KHFF 2026 mengusung tema kuratorial “Menafsir Ulang Warisan: Film sebagai Ruang Kritik dan Negosiasi Budaya” untuk mengajak publik membaca warisan budaya secara kritis, kontekstual, dan inklusif,” jelasnya.

Dalam penyelenggaraannya, festival ini berpusat di dua lokasi utama di kawasan Kotabaru, yakni Pasar Terban dan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN).

Antusiasme terhadap KHFF 2026 juga tercermin dari jumlah karya yang masuk dalam proses submission. Tahun ini tercatat sebanyak 184 film yang didaftarkan untuk mengikuti festival.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi selama empat tahun penyelenggaraan KHFF dan selanjutnya dikurasi untuk masuk dalam program kompetisi.

Setelah berkeliling, para penonton kembali menuju Pasar Terban untuk menyaksikan film dari atas becak.

“Ini menunjukkan bahwa warisan budaya tetap mempunyai tempat di tengah kreativitas generasi muda. Ketika diberikan ruang dan cara yang tepat, sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat justru dapat menjadi sumber cerita yang sangat kaya bagi sineas,” ujarnya.