Kenaikan harga minyak terjadi setelah pasar sebelumnya tertekan oleh tanda-tanda pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$1,14 atau 1,11% menjadi US$103,73 per barel pada pukul 01.31 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 34 sen atau 0,38% menjadi US$89,72 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah Trump membantah laporan bahwa AS bersedia memberikan keringanan sanksi dan membuka akses terhadap dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas konsesi terkait program nuklir Teheran.
Trump sebelumnya menyatakan melalui media sosial bahwa dirinya tidak menawarkan apa pun kepada Iran. Pernyataan tersebut meningkatkan kembali kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Di sisi lain, Qatar masih berupaya menjadi mediator antara AS dan Iran untuk mendorong tercapainya kesepakatan damai. Pembicaraan tersebut menjadi perhatian pasar karena konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan risiko terhadap harga minyak.
Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), harga minyak justru turun sekitar 2,5%. Brent ditutup melemah US$2,69 atau 2,6% menjadi US$102,59 per barel, sedangkan WTI turun US$3,22 atau 3,5% menjadi US$89,38 per barel.
Penurunan tersebut dipicu meningkatnya aliran minyak melalui jalur pipa East-West Arab Saudi serta kembali beroperasinya pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah produsen Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada Februari.
Meski demikian, harga Brent masih berada di jalur kenaikan sekitar 14% sepanjang September, sementara WTI berpotensi mencatat kenaikan sekitar 4%.
Pasar juga mencermati langkah pemerintah AS untuk menambah pasokan minyak. Pemerintah AS menawarkan pinjaman hingga 40 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) kepada perusahaan energi sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar energi global.
Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pasokan minyak Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.




