Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Harga Minyak Naik Tipis ke US$102,6, Pasar Cermati Sinyal Pasokan dan Risiko Timur Tengah

Harga Minyak Naik Tipis ke US$102,6, Pasar Cermati Sinyal Pasokan dan Risiko Timur Tengah

Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Jumat (2/10/2026), setelah pasar mencermati sejumlah sinyal pasokan yang beragam, mulai dari penghentian ekspor bahan bakar China hingga perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 29 sen atau 0,28% menjadi US$102,60 per barel pada pukul 00.22 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 27 sen atau 0,29% menjadi US$93,14 per barel.

Kenaikan tipis tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis. Brent ditutup lebih tinggi lebih dari US$4 per barel, sedangkan WTI menguat lebih dari US$2 per barel.

Lonjakan tersebut dipicu laporan bahwa China menghentikan ekspor bahan bakar serta laporan The Wall Street Journal mengenai rencana Amerika Serikat mengirim tambahan pasukan dan kapal induk ke kawasan Timur Tengah.

Perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh tanda-tanda membaiknya ekspor minyak dari Arab Saudi serta upaya Amerika Serikat mendorong negara-negara Eropa melepas cadangan diesel untuk menambah pasokan ke pasar.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar kini tengah mencerna sinyal pasokan yang beragam setelah pergerakan harga yang cukup tajam pada Kamis.

Menurutnya, kondisi ekspor Arab Saudi yang terlihat lebih baik menjadi penyeimbang terhadap kekhawatiran terkait tambahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta keputusan China membatasi ekspor produk olahan minyak.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang diperhatikan pasar. Laporan WSJ menyebut Amerika Serikat tengah mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 personel tambahan ke Timur Tengah.

Langkah tersebut terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS.

Sementara itu, pasokan bahan bakar diesel juga menjadi perhatian. Pemerintah AS telah meminta Prancis dan Jerman mengurangi persediaan diesel darurat untuk membantu meredakan kenaikan harga bahan bakar global. Jika tidak, Washington disebut mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel AS.

Reuters melaporkan Brent masih berada di jalur penurunan sekitar 1,93% sepanjang pekan ini setelah sebelumnya melonjak sekitar 14% pada September. Adapun WTI membukukan kenaikan sekitar 4% pada September.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *