“Yang hebat dari keluarga politik Jokowi adalah orang-orang lebih berfokus pada “ijasah” daripada apa yang sudah dihasilkan Jokowi sejak jadi Walikota, Gubernur, hingga Presiden dua periode,” tulisnya di akun X, dikutip Jumat (2/10/2026).
Dedy kemudian membuat perumpamaan untuk menyampaikan kritiknya. Ia mengatakan, bahkan jika anggapan kelompok yang mempersoalkan ijazah tersebut dianggap benar, masih ada persoalan lain yang menurutnya sulit dibantah terkait hasil kerja Jokowi.
“Misalkan, anggap saja kelompok perundingan ijasah yang bersemangat itu “benar” maka mereka akan berhadapan dengan realitas yang agak sulit dibantah bahwa orang yang ngga punya ijasah saja bisa bikin ibu kota baru, bagaimana kalau punya ijasah mungkin beliau ini bisa bikin ibu kota baru di planet Mars balapan sama Elon Musk,” ujarnya.
Menurut Dedy, perdebatan mengenai ijazah juga membuat pihak-pihak tersebut mengabaikan perhatian masyarakat terhadap perkembangan politik.
“Kedua, karena tidak ada yang bisa mereka protes selain ijasah dan hal-hal ngga penting lainnya, mereka lupa bahwa rakyat Indonesia terus memantau dengan santai tapi pegang catatan kritis di tangan mereka,” lanjut dia.
“Bisa jadi pemilik kedaulatan bernama rakyat ini sedang mempersiapkan satu agenda utama di pemilu selanjutnya, yaitu bagaimana mendorong Gibran Rakabuming Raka lewat PSI yang ada Jokowinya di sana agar mencalonkan Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal calon Presiden dan biarkan rakyat turun ke TPS untuk memberi pelajaran demokrasi yang berharga,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Dedy menyebut sorotan terhadap Jokowi juga berpotensi membuat nama-nama lain ikut tersisih dari perhatian publik.
“Ketiga, sebenarnya karena nama Jokowi yang paling sering disebut dalam ruang publik maka nama-nama lain jadi tenggelam dan itu berpotensi membangkitkan semacam “kecemburuan elektronik” mengapa dia saja yang disebut saya kok tidak padahal kita sama-sama mantan,” sambung Dedy.
Lebih lanjut, Dedy turut menyinggung perkara yang sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Ia menyampaikan pandangannya mengenai arah perkara tersebut sekaligus mempersoalkan dasar gugatan yang diajukan Denny Indrayana dan para pemohon lainnya.
“Yang keempat, kabarnya MK sekali lagi akan menolak permohonan Denny dkk karena memang sejak awal sudah salah kamar,” imbuhnya.
“Ya begitulah informasi berbasis angan-angan yang saya imaginasi kan untuk saya bagikan sama kawan saya @Sadewa_ yang sering emosian kalau dengan nama Jokowi,” tutup dia.




