Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah juga dipicu aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi. PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan.
Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$ 26,61 miliar melampaui nilai impor US$ 23,06 miliar per Agustus 2026.
“Adapun, BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai US$ 26,61 miliar atau naik 6,72% secara tahunan pada Agustus 2026,” kata Ibrhaim kepada wartawan.
Sementara itu, impor Indonesia tercatat sebesar US$23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi US$19,53 miliar.
“Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas nikel yang naik 51,67% secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78% secara tahunan pada Agustus 2026,” kata dia.





