Musim Kemarau Pengaruhi Harga Pangan, Inflasi di Kota Yogya Terkendali

Gondomanan,REDAKSI17.COM – Harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di Kota Yogyakarta pada Oktober 2026. Selain komoditas pangan, kenaikan biaya kuliah turut memberikan andil terhadap inflasi seiring penyesuaian biaya pendidikan di perguruan tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menyampaikan kelompok makanan menjadi pendorong dominan inflasi month-to-month (m-to-m) Oktober 2026. Komoditas cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,1 persen.

“Selain cabai merah, ada beras, cabai rawit, tomat, buncis, sawi putih, brokoli, labu siam, dan mentimun. Intinya dari kelompok makanan atau volatile food yang menjadi pendorong terjadinya inflasi pada Oktober 2026,” jelas Joko saat ditemui di Kantor BPS Kota Yogyakarta, Senin (2/11).

Selain pangan, kelompok pendidikan juga memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen. Kenaikan tersebut terutama berasal dari biaya kuliah di perguruan tinggi.

Meski demikian, Joko menilai perkembangan inflasi Kota Yogyakarta masih terkendali. Hingga Oktober 2026, inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 2,14 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

“Kalau tahun lalu selama 12 bulan inflasi kita di atas 3 persen. Kalau dua bulan ke depan bisa bertahan tidak terlalu tinggi, maka secara kumulatif inflasi tahun 2026 ini bisa tidak mencapai 3 persen,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tidak terlepas dari kondisi kemarau yang memengaruhi pasokan dan produksi. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap, harga cenderung mengalami kenaikan.

“Secara hukum ekonomi, ketika supply-nya turun, demand tetap, itu pasti terjadi kenaikan harga,” katanya.

Memasuki musim hujan, Joko berharap produksi dan pasokan pangan kembali membaik. Namun, ia mengingatkan pemulihan pasokan tidak berlangsung seketika karena dipengaruhi berbagai faktor, termasuk distribusi barang.

Kepala BPS Kota Yogya, Joko Prayitno

BPS juga mengingatkan adanya kecenderungan kenaikan inflasi pada Desember berdasarkan pola dua tahun terakhir. Pada Desember 2024, inflasi tercatat sebesar 0,48 persen, sedangkan Desember 2025 mencapai 0,53 persen.

Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, terutama untuk komoditas makanan.

“Memang trennya kecenderungannya di akhir tahun meningkat, tetapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Dengan pengalaman dan kebijakan yang tepat, kondisi tersebut masih bisa diantisipasi,” tutur Joko.

Ia berharap pengendalian inflasi selama November dan Desember dapat menjaga stabilitas harga di Kota Yogyakarta. Pengalaman menghadapi kenaikan permintaan pada akhir tahun diharapkan menjadi dasar bagi langkah antisipasi pemerintah, terutama dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan.