Home / Ekonomi dan Bisnis / BEI Buka-bukaan Penyebab IHSG Anjlok 8%

BEI Buka-bukaan Penyebab IHSG Anjlok 8%

Direktur Utama BEI, Iman Rachman (tengah)/Foto: Andi Hidayat/detikcom

Jakarta,REDAKSI17.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun setelah penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan metodologi penghitungan free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan. Pengumuman tersebut bahkan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah trading halt atau menghentikan sementara perdagangan saham karena IHSG anjlok 8%.
Pelemahan IHSG terjadi akibat banyak investor yang panik mendengar pengumuman tersebut. Pasalnya, terdapat sejumlah saham Indonesia berkapitalisasi besar yang masuk dalam perdagangan global indeks MSCI, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kemarin melemah 6,33% ke Rp 7.025 per lembar saham.

Selain BBCA, saham yang melemah dalam indeks global MSCI adalah PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turun 15% ke harga Rp 98.600 per lembar. Melemahnya saham-saham tersebut terjadi karena ada aksi jual atau net sell.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan panic selling terjadi karena pembekuan rebalancing atau penyesuaian kembali komposisi saham Indonesia bulan Februari di MSCI. Pembekuan rebalancing ini berlaku hingga Mei mendatang.

“Apa yang terjadi hari ini memang ada, menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah, pertama untuk di bulan Februari rebalance-nya di-freeze. Jadi, kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI,” ungkap Iman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).

Selain itu, MSCI juga akan menurunkan peringkat BEI menjadi Frontier Market dari posisi saat ini dalam kategori Emerging Market. Keputusan ini akan ditetapkan jika perbaikan tidak kunjung dilakukan BEI hingga Mei mendatang.

“Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia,” jelasnya.

Pengumuman MSCI Bikin IHSG Melorot
MSCI menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari 2026,. Pertama, pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga, pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.

“MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berkoordinasi dengan peserta pasar dan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut sesuai kebutuhan,” tulis pengumuman MSCI, dikutip Rabu (28/1/2026).

Sebagai informasi, IHSG melemah 7,35% ke level 8.320,55 pada penurunan perdagangan Rabu (28/1). BEI bahkan sempat menetapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan selama 30 menit setelah IHSG melemah 8% di tengah perdagangan sesi II.

IHSG mencatat volume transaksi sebanyak 60,85 miliar saham dengan nilai sebesar Rp 45,50 triliun. Frekuensi saham yang diperdagangkan mencapai 3.990.871 kali. Pada penutupan perdagangan, tercatat 37 saham menguat, 753 saham melemah, dan 16 saham yang stagnan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *