Rismon Sianipar usai menemui Jokowi di Solo, Kamis (12/2/2026). (Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng)
Solo,REDAKSI17.COM – Tersangka kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), Rismon Hasiholan Sianipar mendatangi rumah Jokowi di Sumber, Banjarsari, Solo. Rismon menyebut kedatangannya untuk meminta maaf kepada Jokowi.
Selain minta maaf ke Jokowi, Rismon juga minta maaf ke publik perihal temuan terbarunya mengenai ijazah Jokowi. Permintaan maaf itu disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai peneliti.
“Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka meskipun narasi mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya usai bertemu Jokowi, Kamis (12/3/2026).
Rismon mengatakan, dua bulan terakhir dirinya melanjutkan penelitian mengenai ijazah Jokowi. Dalam penelitian tersebut Rismon mendapatkan temuan baru dari ijazah tersebut.
“Pertama, saya dapati memang sejak gelar perkara ditunjukkan ijazah analog dari Bapak Joko Widodo. Terus saya kaji lagi apa yang saya amati di situ, bahwa ada emboss, ada watermarks. Jadi emboss dan watermarks ini menjadi objek kajian saya dan saya teliti memang tidak ada hologram,” ungkapnya.
“Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM, memang pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah. Jadi memang yang ada hanya watermarks dan emboss,” sambungnya.
Ia menegaskan bahwa penelitian yang ia lakukan itu secara independen yang tidak ada ketergantungan dengan Roy Suryo dan dokter Tifa. Sehingga, buku yang ia buat yakni Jokowi White’s Paper tidak ada keterkaitannya dengan Roy dan Tifa.
“Jadi saya garis bawahi, secara independen metodologi itu saya tuliskan sekitar 480-an halaman dari 700 halaman lebih di buku Jokowi’s White’s Paper. Karena buku tersebut adalah tulisan yang independen, artinya tulisan kami antara Pak Roy (Suryo) dan Bu Tifa tidak ada saling ketergantungan, tidak ada saling keterkaitan karena ditulis secara terpisah baik secara geografi maupun analisa,” bebernya.
“Nah, terkait dengan itu, maka saya tentu tetap melanjutkan penelitian saya. Apa yang dilakukan Pak Roy dan Bu Tifa saya tidak tahu ya, karena memang objek kajian saya berbeda,” lanjut Rismon.
Berbeda dari sebelumnya yang dengan tegas mengatakan ijazah Jokowi palsu, ia justru menyebut keaslian harus dilakukan dengan metode lagi bukan hanya sekedar narasi.
“(Menegaskan ijazah asli?) Jawaban itu kan jawaban yang harusnya dijawab dengan metodologi, bukan secara narasi bahwa itu palsu, itu asli. Secara metodologi itu harus dijawab dan itu harus objektif,” pungkasnya.





