Home / Tokoh Kita / Wiharni, Abdi Dalem Keraton Solo 30 Tahun Mengabdi

Wiharni, Abdi Dalem Keraton Solo 30 Tahun Mengabdi

Kisah , Abdi Dalem Saksi Perjalanan Keluarga Seorang abdi dalem, Wiharni (69) atau Nyai Lurah Harso Pusoko, saat ditemui di Sasana Hadi, Selasa (17/3/2026). Meski penghasilan yang diterima terbilang kecil, Wiharni mengaku tetap setia mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta.

Selama hampir 30 tahun mengabdikan jiwa dan raganya untuk keraton, seorang abdi dalem, Wiharni (69) atau Nyai Lurah Harso Pusoko, tetap ikhlas menjalani tugasnya.

Padahal, ia hanya menerima gaji Rp 150 ribu per bulan.

“Mbah lahir batin ngabdi tidak hanya raganya jiwanya. Saya di Ndalem Ageng tempat pusaka. Saya Rp 150 per bulan,” jelasnya, saat ditemui di Sasana Hadi, Selasa (17/3/2026).

Mengabdi Sejak Pembangunan Sasana Hondrowino

Wiharni menuturkan, dirinya telah menjadi abdi dalem sejak puluhan tahun lalu, tepatnya sekitar masa pembangunan Sasana Hondrowino yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave.

Ia mengaku telah mengenal keluarga keraton sejak lama, bahkan sejak para “gusti” masih kecil.

Meski sempat berkeluarga dan membesarkan anak-anak, ia kembali mengabdi mengikuti jejak orang tuanya yang juga merupakan abdi dalem.

“Saya jadi abdi dalem sudah lama. Jadi gusti-gusti itu kecil-kecil mbah tahu. Saya mempunyai suami berumah tangga anak-anak sudah besar saya ngabdi dalem lagi. Karena orang tua saya abdi dalem semua. Jadi saya meneruskan. Saya masuk abdi dalem Hondrowino mulai dibangun. Pelestarian Pak Menteri Joop Ave meresmikan saya resmi jadi abdi dalem. PB XII,” jelas Wiharni.

Ikhlas Mengabdi Demi Keraton

Meski penghasilan yang diterima terbilang kecil, Wiharni mengaku tetap setia mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta.

Baginya, pengabdian bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup yang dijalani dengan penuh keikhlasan.

Dengan suara sedikit terisak, ia berharap kondisi keraton ke depan semakin rukun dan mampu membawa ketenteraman bagi semua pihak.

Ia juga ingin marwah keraton kembali bersinar sebagai simbol kebudayaan adiluhung peradaban Jawa.

“Sukanya semuanya baik-baik saja. Mbah pengennya semua baik tentrem ayem loh jinawi. Semua bisa mimpin keraton yang baik. Semua bisa yang baik. Semua suka. Supaya ke depan baik. Supaya pamornya keraton moncer lagi,” ungkapnya.

Besaran Gaji Abdi Dalem Beragam

Sementara itu, Juru Bicara Purboyo KPA Singonagoro menjelaskan bahwa gaji abdi dalem maupun sentono dalem di Keraton Kasunanan Surakarta memang bervariasi, tergantung pada pangkat dan jabatan masing-masing.

“Kalau untuk besarannya variasi sesuai job dan deskripsinya sama dengan yang sudah ditetapkan oleh pengageng yang membidangi. Besarannya tidak sama. Rate yang paling tinggi Rp 2 juta untuk gusti pangeran. Tapi bervariasi tidak sama. Ada ketentuannya. Mengatur nilai ada yang membidangi di bidang keuangan,” jelasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *