“Semua orang cocok sama Anies kecuali Gibran. Buat saya gak cocok aja gitu, Anies intelektual bersih terus didampingi sama anak haram konstitusi,” kata Geisz dalam tayangan video yang diunggah kembali di akun Facebook miliknya, dikutip Selasa (18/8).
Geisz menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengubah batas usia calon presiden dan wakil presiden. Menurutnya, keputusan itu menyentuh ranah prinsipil yang tidak bisa diabaikan hanya demi kepentingan elektoral
Ia menilai, jika Anies memilih Gibran semata untuk memperbesar peluang kemenangan, maka langkah itu justru merusak nilai perjuangan yang selama ini diusung.
“Itu sama aja kita merusak diri kita sendiri. Menutup mata untuk sebuah ketidakbenaran demi kekuasaan,” tegasnya.
Geisz menambahkan, dukungannya kepada Anies bukan karena keuntungan materi atau politik pribadi, melainkan karena kesamaan visi dan gagasan. “kan kita dukung Anies itu dengan, apa, kalau bahasa hiperbolanya segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga,” ujarnya.
Meski mengakui politik tak bisa lepas dari kompromi, Geisz menekankan kompromi ada batasnya.
“Politik adalah konflik dan konsensius, kita harus lihat komprominya, konsensiusnya. It’s okay dalam hal-hal yang tidak prinsipil. Kalau sudah masalah etik, dia melanggar yang dikatakan sendiri,” katanya.
Sebagai sosok yang dikenal dekat dengan Anies, Geisz menegaskan loyalitasnya bukan berarti membenarkan semua keputusan. Jika suatu saat Anies mengambil langkah yang bertentangan dengan nilai perjuangan, ia lebih memilih diam dan mengambil jarak.
“Kan kita gak nyari duit di politik. Kita ikut terlibat karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang baik untuk bangsa ini,” pungkasnya.





