Beranda / Daerah / Artjog 2026 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di Artjog Tahun Depan Ars Longa: Legatum

Artjog 2026 Resmi Ditutup, Sampai Jumpa di Artjog Tahun Depan Ars Longa: Legatum

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Penampilan Band White Shoes & The Couples Company menutup gelaran Artjog 2026 di Jogja National Museum (JNM) Bloc, Yogyakarta, pada Minggu malam (30/8/2026).

Event tahunan yang sudah berlangsung selama 18 kali ini konsisten menampilkan karya-karya seni yang menakjubkan.

Pada tahun ini Artjog dilaksanakan sejak 19 Juni dan berakhir pada 30 Agustus 2026.

Tema Ars Longa: Generatio pada tahun ini sukses memanjakan mata para pengunjung dari berbagai kalangan.

Selain pameran karya seni, Artjog juga menampikan banyak performance art hingga diskusi publik terkait dunia kesenian.

Ars Longa Generatio resmi ditutup

Sebelum pertunjukan penutupan Artjog 2026, Founder sekaligus CEO Artjog, Heri Pemad bersama segenap tim kerja dan panitia Artjog 2026 terlebih dahulu menyapa pengunjung.

Dia juga menyampaikan permohonan maaf serta ucapan terimakasih sebelum berpamitan kepada para penonton.

Perasaan bangga dan rasa kagum kepada para segenap rekan kerjanya di Artjog 2026 juga turut disampaikan Heri Pemad.

“Terimakasih sebesar-besarnya, berikutnya saya sampaikan perasaan bangga dan kagum kepada segenap tim yang sudah bekerja keras,” ungkap Heri Pemad.

Sosok yang akrab disapa Pemad ini menyampaikan tahun depan Artjog akan kembali menyapa masyarakat.

Dia juga sedikit menyinggung mengenai tema Artjog 2027 yakni Ars Longa: Legatum sebagai seri kedua dari trilogi kuratorial Ars Longa Trilogia.

“Dan dengan mengucap Alhamdulillah, Artjog 2026 Ars Longa Generatio resmi ditutup,” ujar Pemad diiringi tepuk tangan para pengunjung.

Seusai penutupan secara resmi Artjog 2026, sorak sorai penonton menggelegar ketika Aprilia Apsari bersama para punggawa White Shoes and The Couples Company memasuki panggung.

Sorot lampu serta hentakan drum berpadu dengan irama retro dari band asal Ibukota ini menjadi penutup Artjog 2026 yang mungkin akan selalu dikenang.

Sari bersama para personel White Shoes and The Couples Company membawakan lagu pertamanya berjudul Senja Menggila.

ARTJOG 2026 kembali hadir menggandeng kurator independen, Farah Wardani hingga
pelaksanaan tiga tahun ke depan.

Farah Wardani merancang payung tema “Ars Longa Trilogia” menekankan relevansi seni yang terus berlanjut di tengah tantangan sosial, politik, teknologi, dan ekologis hari ini.

“Ars Longa Trilogia” ini kemudian dikembangkan menjadi tiga subtema yang akan digelar selama tiga tahun: Generatio (2026), Legatum (2027), dan Mundus (2028).

Untuk mengawalinya, pameran ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO mempresentasikan karya dari 44 seniman dewasa, baik individu maupun kolektif, yang berfokus pada dialog antargenerasi dalam praktik seni kontemporer, serta memaknai ulang peran seni dan bagaimana sejarah serta kondisi sosial-politik
membentuk identitas kita hari ini.

Beberapa instalasi seni yang cukup unik dan layak dikunjungi yakni karya berjudul Grrm (muted) oleh seniman berbakat Mira Riski.

Seniman asal Bandung ini mengeksplorasi dimensi taktil dan perseptual suara, dengan menekankan perannya dalam membentuk persepsi, memori, dan refleksi sosial.

Melalui komposisi suara eksperimental, dia menyelidiki bagaimana ingatan individu dan kolektif terbentuk dari rangsangan pendengaran yang berakar pada pengalaman pribadi dan konteks lingkungan.

Grrm sendiri terdiri dari 21 rekaman wawancara dari rekan dekat dan partisipan anonim pekerja kreatif, petani, dan staf institusi yang menggambarkan ketakutan, kecemasan, dan frustasi terkait masa depan, terutamanya yang dirasakan oleh generasinya.

Artefaknya berupa lempengan rosin berlapis yang berukir pola dari rekaman tersebut, disusun dalam wadah aluminium berisi air, dan diterangi sehingga memproyeksikan gema visual tiga dimensi.

Getaran frekuensi rendah dari rekaman tersebut menciptakan pola visual dan fisik yang mewujudkan energi tak terlihat dari memori kolektif dan janji-janji yang tidak terpenuhi.

Di bagian bawah instalasi, pengeras suara memancarkan suara frekuensi rendah, yang mengundang pengunjung untuk membungkuk dan mendengarkan dengan saksama.

“Menurutku ini sangat unik, ketika masuk ke ruangan ini tiba-tiba muncul suara samar-samar, tidak jelas, tetapi aku bisa menginterpretasikan itu,” kata salah seorang pengunjung bernama Dani Wicaksana.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *