JAKARTA,REDAKSI17.COM – Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan kembali menggelar perundingan di Doha, Qatar, pada Selasa (waktu setempat), setelah eskalasi militer kedua negara dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Seperti dikutip Cnbc, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan rencana pertemuan tersebut melalui platform Truth Social pada Senin. Menurut Trump, pembicaraan akan berlangsung setelah Iran mengajukan permintaan untuk kembali ke meja perundingan.
“Iran telah meminta pertemuan. Pertemuan itu akan berlangsung besok di Doha!” tulis Trump di Truth Social.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut. CNBC melaporkan telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Iran, namun belum memperoleh respons.
Di Washington, seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio bersama Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff dijadwalkan memberikan pengarahan kepada Kongres terkait rancangan awal kesepakatan damai. Laporan tersebut pertama kali diungkap Punchbowl News, meski Gedung Putih belum mengungkap rincian isi kesepakatan yang tengah dibahas.
Pengumuman Trump muncul setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan, yang sempat mengancam kelanjutan proses negosiasi untuk meredakan konflik di kawasan.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Doha untuk mengikuti perundingan tersebut.
“Bagi kami, kami mematuhi ketentuan gencatan senjata. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan.” ujar Leavitt kepada Fox News.
Ia menegaskan Presiden Trump tetap memiliki kewenangan penuh untuk menggunakan kekuatan militer apabila situasi kembali memburuk.
“Amerika Serikat memiliki militer terbaik dan terkuat di dunia. Presiden tetap memegang hak untuk menggunakannya. Namun sekali lagi, nota kesepahaman tersebut akan terus dibahas. Gencatan senjata sedang berlangsung, dan kami berharap dapat mencapai kesepakatan yang baik.”
Sebelumnya, militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran sebagai respons atas serangan terbaru Teheran terhadap jalur pelayaran di kawasan strategis Timur Tengah.
Menyusul aksi tersebut, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran melalui Truth Social pada Minggu.
“Mungkin akan tiba saatnya kita tidak bisa lagi bersikap rasional dan terpaksa menyelesaikan secara militer tugas yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika hal itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!”
Di sisi lain, pejabat AS menyatakan kedua negara sepakat menghentikan sementara aksi militer dan memberikan akses aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
“Pembahasan teknis dijadwalkan akan berlanjut pada seluruh aspek nota kesepahaman (MOU) tersebut,” kata seorang pejabat AS kepada CNBC.
“Kedua belah pihak akan menahan diri untuk saat ini, dan kapal-kapal dapat bergerak dengan bebas.”
Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Sekitar 20% perdagangan minyak global melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memicu gejolak harga energi internasional.
Dalam unggahan terpisah di Truth Social pada Senin, Trump juga menyoroti penurunan harga minyak dan gas dunia. Ia menyebut harga minyak mentah AS telah kembali ke level sebelum pecahnya konflik Iran pada 28 Februari, yang menurutnya menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar energi global.





