Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Baduy Adalah Pasukan Elite Pajajaran Yang Masih Bertugas

Baduy Adalah Pasukan Elite Pajajaran Yang Masih Bertugas

Selama ini kita memandang mereka dengan perasaan iba, kagum, atau sekadar penasaran. Tapi tidak satu pun dari perasaan itu yang tepat. Karena mereka tidak butuh iba kita. Mereka tidak sedang kalah. Mereka sedang menjalankan misi yang sudah berusia lebih dari 700 tahun dan mereka belum selesai.
Oleh M. Basyir Zubair (Embas)
CARA PANDANG YANG SELALU SALAH
Ada tiga cara pandang yang paling umum dipakai orang luar ketika membicarakan masyarakat Baduy. Pertama: mereka adalah suku yang terisolasi dan tertinggal, perlu dibantu agar bisa “maju.” Kedua: mereka adalah sisa-sisa pelarian Pajajaran yang menyingkir dari tekanan Islam, bertahan dengan cara bersembunyi. Ketiga: mereka adalah objek wisata budaya yang eksotis, dengan pakaian putih dan cara hidup sederhana yang “unik.”
Ketiga cara pandang itu keliru. Bukan sedikit keliru. Keliru secara fundamental.
Karena ketiga cara pandang itu menempatkan Baduy sebagai pihak yang pasif yang menyingkir, yang bertahan, yang terisolasi, yang perlu diselamatkan atau dikagumi dari jauh.
Tidak satu pun dari ketiganya yang mau mengajukan pertanyaan yang lebih penting: bagaimana kalau mereka bukan pasif? Bagaimana kalau mereka aktif? Bagaimana kalau ketiadaan teknologi, ketiadaan modernitas, ketiadaan “kemajuan” itu bukan kekurangan yang tidak mereka sadari melainkan bagian dari desain yang sangat disengaja?
Baduy tidak ketinggalan zaman. Baduy menolak zaman secara sadar, terstruktur, dan dengan alasan yang sudah dirumuskan lebih dari tujuh abad lalu.
NAMA YANG BENAR: URANG KANEKES
Langkah pertama untuk memahami mereka dengan benar adalah berhenti memakai nama yang salah.
FAKTA
Siapa Sebenarnya ‘Baduy’?
Nama ‘Baduy’ adalah nama yang diberikan oleh orang luar, kemungkinan berasal dari peneliti Belanda yang mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi (kaum nomaden padang pasir), atau diambil dari nama Sungai Cibaduy dan Gunung Baduy di kawasan utara wilayah mereka (sumber: Garna, 1993, dikutip dalam berbagai kajian akademis).
Mereka sendiri menyebut diri sebagai Urang Kanekes orang Kanekes, sesuai nama wilayah desa adat mereka di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Dalam setiap interaksi resmi dengan pemerintah, mereka menggunakan nama ini (sumber: Danasasmita dan Djatisunda, 1986).
Bahasa mereka adalah bahasa Sunda dialek Sunda-Banten. Mereka bisa berbahasa Indonesia untuk komunikasi dengan pihak luar, menunjukkan mereka bukan tidak tahu dunia luar, tapi memilih untuk tidak masuk ke dalamnya (sumber: berbagai kajian, termasuk Garna, 1993).
Detail itu penting. Orang yang tidak tahu siapa dirinya tidak akan mempertahankan nama sendiri selama berabad-abad di hadapan tekanan dari luar. Urang Kanekes tahu persis siapa mereka. Yang tidak tahu adalah kita.
RAKEYAN DARMASIKSA DAN PENETAPAN MANDALA
Sekarang ke akar sejarahnya yang paling solid secara akademis.
FAKTA
Siapa yang Mendirikan Wilayah Kanekes sebagai Mandala?
Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986), dua peneliti yang melakukan penelitian lapangan paling komprehensif tentang Kanekes, orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Buddha (sumber: Danasasmita dan Djatisunda, 1986, dikutip dalam berbagai kajian termasuk Sekolah Hukum Indonesia/Medium, 2025).
Raja yang menetapkan wilayah Kanekes sebagai mandala resmi adalah Rakeyan Darmasiksa, raja Sunda ke-13, keturunan Sri Jayabupati generasi kelima, yang memerintah sekitar abad ke-13 (sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dikutip dalam kajian keagamaan Suku Baduy, Neliti.com).
Artinya: Kanekes bukan wilayah yang terbentuk secara kebetulan atau karena pelarian. Ia adalah wilayah yang secara resmi ditetapkan oleh negara oleh raja yang sah, sebagai kawasan mandala. Ini adalah keputusan politik dan spiritual yang sangat terencana, jauh sebelum Pajajaran runtuh pada 1579.
Ini adalah fakta yang paling sering diabaikan dalam narasi populer tentang Baduy. Kanekes bukan tempat persembunyian. Ia adalah wilayah yang dinobatkan. Ada perbedaan besar antara keduanya.
Rakeyan Darmasiksa tidak menciptakan tempat pelarian. Ia menciptakan benteng terakhir peradaban yang tidak dibangun dari batu, tapi dari komitmen manusia kepada pikukuh.
TIGA KAMPUNG, TIGA DIVISI: INI BUKAN PEMUKIMAN INI STRUKTUR KOMANDO
Dan sekarang ke bagian yang paling mengejutkan yang nyaris tidak pernah dianalisis dengan serius dalam tulisan populer tentang Baduy.
Baduy Dalam terdiri dari tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Kebanyakan orang membacanya sebagai tiga desa yang berdekatan. Tapi kalau dibaca dengan lebih cermat, struktur tiga kampung ini adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekadar pemukiman.
TITIK BALIK
Tiga Kampung Tangtu: Tiga Divisi dengan Tugas yang Berbeda
Cikeusik, kampung paling selatan, paling tua, paling sakral, bertugas menjaga kemurnian agama dan pikukuh. Ini adalah divisi teologis: penjaga doktrin, penjaga kebenaran adat. Tidak ada kompromi di sini.
Cikartawana, kampung tengah, keturunan kedua, bertugas menjaga keamanan dan kesejahteraan kawasan. Ini adalah divisi pertahanan dan logistik: memastikan wilayah mandala aman dan komunitas bisa bertahan.
Cibeo, kampung paling utara, paling dekat dengan dunia luar, bertugas sebagai penerima tamu, hubungan masyarakat, dan kepemerintahan. Ini adalah divisi diplomasi: satu-satunya pintu resmi antara Kanekes dan dunia luar (sumber: Baduy Banten Heritage, mengutip penelitian struktur kampung Tangtu).
Tiga Puun (pemimpin adat tertinggi) memimpin masing-masing kampung. Pucuk pimpinan disebut Puun Tri Tunggal: Puun Sadi di Cikeusik, Puun Janteu di Cibeo, dan Puun Kiteu di Cikartawana. Tidak satu pun dari ketiganya boleh meninggalkan kampungnya (sumber: berbagai kajian akademis termasuk Permana, 2001).
Perhatikan strukturnya. Teologi, pertahanan, diplomasi. Tiga fungsi fundamental sebuah negara, dijalankan oleh tiga kampung berbeda, dalam satu sistem yang terkoordinasi, selama lebih dari tujuh abad.
Ini bukan struktur pemukiman. Ini adalah struktur pemerintahan yang sangat canggih, yang berhasil bertahan melewati runtuhnya Pajajaran, masuknya Islam, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, Orde Baru, Reformasi, dan era digital tanpa satu kali pun kehilangan identitasnya.
SISTEM PERTAHANAN BERLAPIS: DARI DANGKA SAMPAI ARCA DOMAS
Struktur pertahanan Kanekes tidak hanya ada di dalam tiga kampung Tangtu. Ia berlapis keluar, seperti lingkaran konsentris yang melindungi inti paling sakral.
FAKTA
Empat Lapis Pertahanan Kanekes
LAPIS TERLUAR
Kampung Dangka: Dua kampung yang tersisa (Padawaras/Cibengkung dan Sirahdayeuh/Cihandam) berada di luar wilayah Kanekes, berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone) terhadap pengaruh luar, semacam garis depan yang menyaring apa yang boleh masuk (sumber: Permana, 2001).
LAPIS KEDUA
Baduy Luar (Panamping): Puluhan kampung yang mengelilingi wilayah Baduy Dalam. Mereka sudah berinteraksi lebih banyak dengan dunia luar, tapi masih dalam sistem adat yang sama.
LAPIS KETIGA
Baduy Dalam (Tangtu): Tiga kampung inti dengan tiga fungsi berbeda seperti diuraikan di atas.
LAPIS TERDALAM
Sasaka Domas (Arca Domas): Lokasi paling sakral yang dirahasiakan dan hanya dikunjungi setahun sekali pada bulan Kalima dalam upacara muja yang dipimpin Puun Cikeusik. Dianggap sebagai pancer bumi pusat semesta, dan sebagai tempat diturunkannya cikal bakal orang Kanekes (sumber: Baduy Banten Heritage, kajian Arca Domas).
Empat lapis. Dari luar ke dalam: zona penyangga, komunitas luar, komunitas inti, pusat kosmis. Ini adalah desain keamanan dan kesakralan yang sangat terencana, bukan pola pemukiman yang terbentuk secara organik karena ketidaktahuan.
Dan perhatikan ini: Sasaka Pusaka Buana yang dianggap hampir berdampingan dengan Sasaka Domas, ditempatkan sebagai pusat dunia dalam kosmologi Kanekes. Kemudian berurut keluar: kampung dalam, kampung luar, kampung dangka, Banten, tanah Sunda, luar Sunda. Kanekes tidak melihat dirinya sebagai pinggiran, ia melihat dirinya sebagai pusat. Kita yang ada di luarlah yang di pinggiran, dalam pandangan mereka.
PIKUKUH: BUKAN LARANGAN INI KODE OPERASI
Cara pandang orang luar tentang pikukuh selalu menekankan apa yang dilarang: tidak boleh pakai teknologi, tidak boleh naik kendaraan, tidak boleh pakai alas kaki, tidak boleh memakai pakaian modern. Daftar larangan itu panjang.
Tapi framing “dilarang” adalah framing yang salah. Pikukuh bukan larangan, ia adalah kode operasi. Dan ada perbedaan besar antara keduanya.
DEBAT ILMIAH
Asal-usul Kanekes: Pelarian Pajajaran atau Komunitas Mandala Asli?
Ada dua kubu besar dalam akademisi.
Kubu pertama: Kanekes adalah keturunan pelarian Pajajaran yang tidak mau tunduk kepada Islam Banten (didukung oleh korelasi upacara Seba dan beberapa tradisi lisan).
Kubu kedua: Kanekes adalah komunitas asli yang sudah ada sebelum Pajajaran yang kemudian secara resmi dijadikan mandala oleh raja (posisi Danasasmita dan Djatisunda, 1986; juga didukung Van Tricht, 1928 yang menyatakan mereka adalah komunitas asli dengan daya tolak kuat terhadap perubahan eksternal).
Orang Kanekes sendiri menolak narasi ‘pelarian Pajajaran.’ Dalam tradisi lisan mereka, Kanekes adalah pancer bumi, pusat dunia, yang ada sejak awal mula manusia. Mereka tidak melihat diri sebagai yang melarikan diri, tapi sebagai yang tetap tinggal sementara dunia di sekitar mereka yang berubah.
Kesimpulan yang paling dapat dipertahankan secara akademis: kemungkinan besar keduanya benar sekaligus. Ada komunitas asli yang sudah ada di kawasan itu jauh sebelum Pajajaran, yang kemudian secara resmi dikukuhkan sebagai mandala oleh Rakeyan Darmasiksa, dan yang kemudian menerima gelombang tambahan dari komunitas spiritual Pajajaran yang menolak tunduk setelah 1579.
Dalam kerangka kode operasi, pikukuh tiba-tiba bisa dibaca dengan sangat berbeda. Larangan memakai teknologi bukan karena tidak tahu teknologi tapi karena teknologi mengubah hubungan manusia dengan alam, dan hubungan itu adalah inti dari misi mereka. Larangan menerima tamu sembarangan bukan karena takut, tapi karena kerahasiaan lokasi Arca Domas harus dijaga. Kewajiban ngahuma (bercocok tanam di ladang) bukan sekadar cara hidup, tapi adalah rukun wiwitan, ibadah wajib dalam sistem kepercayaan Sunda Wiwitan.
Setiap elemen yang kita baca sebagai ‘keterbelakangan’ Baduy, kalau dibaca ulang sebagai kode operasi untuk misi pelestarian, tiba-tiba menjadi sangat masuk akal bahkan sangat canggih.
MEREKA MASIH BERTUGAS DAN TUGASNYA LEBIH PENTING DARI YANG KITA BAYANGKAN
Apa misi yang sedang mereka jalankan?
Dalam kosmologi Sunda Wiwitan, tugas orang Kanekes adalah menjaga keseimbangan alam semesta, bukan metafora, tapi tanggung jawab kosmologis yang konkret. Selama pikukuh dijalankan, Batara Tunggal akan melindungi dunia melalui Guriang (utusan Batara Tunggal dari kalangan karuhun). Kalau pikukuh dilanggar, penderitaan yang datang adalah hukuman kosmis (sumber: Historia, Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 2020).
Dalam kerangka itu, mereka bukan menjalankan tradisi, mereka menjalankan tanggung jawab. Ada perbedaan besar. Tradisi bisa ditinggalkan kalau tidak relevan lagi. Tanggung jawab kosmis tidak bisa.
Dan ada satu fakta yang tidak bisa diabaikan: dalam setiap upacara Seba, penyerahan hasil bumi kepada Bupati Lebak yang dilakukan secara rutin, orang Kanekes mengakui hubungan mereka dengan pemerintahan. Mereka tidak benar-benar terisolasi dari sistem politik. Mereka memilih posisi dalam sistem itu: penjaga alam, bukan penguasa. Pelindung, bukan yang dilindungi.
PENUTUP: UKURAN YANG KELIRU LAGI
Kita pernah membahas ukuran yang keliru ketika menilai Pajajaran yang tidak punya candi. Tentang Baduy, kita melakukan kesalahan yang sama.
Ukuran kemajuan yang kita pakai, teknologi, pertumbuhan ekonomi, modernisasi, adalah ukuran yang lahir dari konteks industri Eropa abad ke-18 dan ke-19. Ukuran itu relevan dalam konteksnya. Tapi memaksakan ukuran itu kepada komunitas yang sedang menjalankan misi yang sama sekali berbeda adalah sebuah kekeliruan epistemologis yang serius.
Orang Kanekes tidak menjalankan misi untuk “maju” dalam pengertian industri modern. Mereka menjalankan misi untuk menjaga, menjaga tanah, menjaga air, menjaga keseimbangan, menjaga ingatan tentang cara hidup yang berbeda.
Dan justru di abad ini di zaman krisis iklim, degradasi ekosistem, kehilangan keanekaragaman hayati, misi itu tiba-tiba terdengar bukan seperti ketertinggalan. Ia terdengar seperti keniscayaan.
Mereka bukan tidak berkembang. Mereka berkembang ke arah yang berbeda. Dan mungkin justru ke arah yang lebih dibutuhkan dunia hari ini daripada yang kita bayangkan.
Pajajaran runtuh pada 1579. Tapi misi yang ditetapkan Rakeyan Darmasiksa jauh sebelum itu misi menjaga Sasaka Domas sebagai pancer bumi masih berjalan hari ini, di tiga kampung kecil di kaki Pegunungan Kendeng, Lebak, Banten. Itu bukan kegagalan. Itu adalah ketahanan yang luar biasa.
DAFTAR PUSTAKA
Danasasmita, S. dan Djatisunda, A. (1986). Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. [Sumber primer utama untuk status mandala Kanekes.]
Garna, J.K. (1974). Masyarakat dan Kebudayaan Baduy I dan II. Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Padjajaran. [Termasuk catatan Van Tricht 1928 tentang status asli komunitas.]
Permana, R.C.E. (2001). Tata Ruang Masyarakat Baduy. Dikutip dalam berbagai kajian akademis tentang struktur kampung Tangtu, Panamping, dan Dangka.
Sujana (2020). ‘Pikukuh: Kajian Historis Kearifan Lokal Pitutur dalam Literasi Keagamaan Masyarakat Adat Baduy.’ Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. 3, No. 2. DOI: 10.17509/historia.v3i2.24347. Universitas Pendidikan Indonesia.
Krisnawaty, F. dkk (2025). Kajian tentang pikukuh karuhun sebagai hukum adat, dikutip dalam: ‘Mengenal Praktik Pikukuh Karuhun,’ Sekolah Hukum Indonesia, Medium.com, Oktober 2025.
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Kajian keagamaan Suku Baduy, dikutip dalam: ‘Keagamaan Suku Baduy Lebak Banten: Antara Islam dan…,’ Neliti.com (media.neliti.com/media/publications/362997).
Baduy Banten Heritage, ‘Arca Domas,’ baduybantenheritage.blogspot.com (2011). Memuat deskripsi tugas masing-masing tiga kampung Tangtu dan prosesi upacara muja tahunan.
LPM Sigma, ‘Dari Pajajaran ke Kanekes: Rekonstruksi Sejarah Suku Baduy,’ magang.lpmsigma.com, Juli 2025.
Nurhadi Rangkuti, ‘Gelegak Tradisi Tua Tanah Kanekes,’ dikutip dalam kajian keagamaan Suku Baduy, Neliti.com.
Catatan epistemik: framing ‘pasukan elite spiritual yang masih bertugas’ adalah interpretasi analitis yang diajukan untuk memprovokasi cara pandang baru bukan klaim emic (klaim dari sudut pandang orang Kanekes sendiri). Orang Kanekes tidak menyebut diri sebagai ‘pasukan elite.’ Yang secara akademis terdokumentasi adalah: struktur tiga kampung Tangtu dengan tugas yang berbeda (Baduy Banten Heritage, mengutip penelitian lapangan), status mandala resmi yang ditetapkan oleh raja (Danasasmita dan Djatisunda, 1986), dan sistem pikukuh sebagai sistem nilai yang hidup dan dijalankan secara konsisten (Historia, 2020). Seluruh interpretasi dibangun di atas data tersebut.
Yogyakarta, 23Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *