Home / Hikayat, Seni dan Budaya / Biografi Nyai Saritem: Dua Sisi Sejarah Wanita Bandung Abad ke-19

Biografi Nyai Saritem: Dua Sisi Sejarah Wanita Bandung Abad ke-19

Oleh: Sejarah Cirebon
Nyai Saritem, sebuah nama yang tak asing dalam sejarah Bandung, khususnya terkait dengan kisah-kisah di abad ke-19. Sosoknya yang legendaris menyimpan dua narasi yang kontras, antara citra kelam dan perjuangan martabat wanita.
Untuk memahami lebih dalam, mari kita telusuri jejak kehidupannya berdasarkan catatan sejarah yang ada.
Latar Belakang dan Asal Mula Nama
Nama asli Nyai Saritem adalah Nyi Mas Ayu Permatasari, putri dari pasangan bangsawan Raden Arya Sutajaya dan Sri Arum Ningrum. Kecantikannya yang memukau membuatnya tumbuh menjadi kembang desa. Parasnya yang ayu, dengan kulit manis yang sedikit gelap, membuatnya akrab disapa Sari Iteung, yang kemudian berkembang menjadi nama Saritem.
Kehidupan Saritem berubah drastis ketika ia bertemu dengan Peter van de Hood, seorang Komandan Militer Belanda yang bertugas di Bandung. Sari kemudian dibawa ke Bandung dan menjadi seorang ‘nyai’ atau gundik bagi Peter van de Hood. Status ini, di satu sisi, membuatnya semakin merawat diri dan kecantikannya semakin tersohor di berbagai daerah.
Dua Versi Sejarah yang Kontroversial
Sejarah mencatat nama Saritem dengan dua versi yang berbeda, menciptakan gambaran hitam putih tentang perannya di masa itu:
1. Versi Kelam: Simbol Lokalisasi
Salah satu versi sejarah menggambarkan Saritem sebagai sosok yang terlibat dalam bisnis prostitusi. Konon, Peter van de Hood meminta Saritem untuk mencarikan gadis-gadis pribumi sebagai pemuas nafsu para serdadu Belanda yang masih lajang. Peran ini, menurut beberapa catatan, menjadi cikal bakal berkembangnya lokalisasi di Bandung yang kemudian dikenal dengan nama Saritem. Bisnis ini kemudian berkembang menjadi geliat ekonomi kelam yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
2. Versi Berjasa: Pejuang Martabat Wanita
Namun, ada pula versi lain yang melukiskan Saritem sebagai pejuang martabat wanita. Menurut jurnalis Aan Merdeka, Saritem sangat prihatin dengan maraknya prostitusi di Bandung pada masa itu, terutama karena banyak perempuan yang terjerumus akibat kemiskinan dan kelaparan. Sebagai seorang bangsawan, Saritem merasa terpanggil untuk membantu para perempuan keluar dari jurang kehinaan.
Dalam versi ini, Saritem diceritakan meminta tuannya, Peter van de Hood, untuk melapor kepada Pemerintah Kolonial agar menutup praktik prostitusi liar. Ia mengusulkan agar sistem tersebut diubah menjadi semacam biro jodoh, di mana para lelaki yang membutuhkan perempuan harus menikahi mereka secara resmi. Inisiatif ini bertujuan untuk mengembalikan harkat dan martabat perempuan di tengah kondisi sosial yang sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *