Jakarta,REDAKSI17.COM – Penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), kembali membekukan rebalancing saham RI di Mei 2026. Selain itu, saham-saham Indonesia yang masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) juga akan dikeluarkan dari indeks MSCI.
Menanggapi hal tersebut, Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengaku akan terus membangun komunikasi dengan penyedia indeks saham. Sebelum pengumuman tersebut, ia juga mengaku sempat menemui jajaran MSCI pada tanggal 16 April kemarin.
Namun, ia tak menyebut rinci isi pertemuannya dengan MSCI. Meski begitu, Jeffrey mengatakan pihaknya akan terus membangun komunikasi dengan seluruh stakeholder pasar modal untuk memperkuat pasar modal RI.
“Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan,” ungkap Jeffrey dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Jeffrey menambahkan, MSCI juga telah menerima empat proposal yang mencakup reformasi pasar modal. Menurutnya, MSCI juga telah mengakui sejumlah inisiatif yang dilakukan pasar modal RI.
“Kami mengapresiasi bahwa 4 proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI,” pungkasnya.
Sebagai informasi, MSCI kembali menunda review indeks saham RI di bulan Mei 2026. MSCI juga masih membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS); tidak menambahkan saham RI ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI); dan tidak melakukan kenaikan klasifikasi ukuran saham ke segmen yang lebih besar, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Saat ini, MSCI tengah mengkaji aksesibilitas investasi di pasar modal Indonesia. Karenanya, MSCI akan mengeluarkan saham yang masuk dalam kategori HSC.
“MSCI akan terus menjalin komunikasi dengan para pelaku pasar dan otoritas terkait di Indonesia, serta menyambut masukan dari para pelaku pasar mengenai sumber data dan indikator yang baru diperkenalkan, termasuk efektivitasnya dalam menentukan free float dan menilai kelayakan investasi. MSCI berencana untuk memberikan informasi lebih lanjut mengenai topik ini sebagai bagian dari Tinjauan Aksesibilitas Pasar yang dijadwalkan pada Juni 2026,” tulis pengumuman MSCI.





