KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo akan membatasi layanan evakuasi sarang tawon. Langkah ini ditempuh demi menghemat bahan bakar minyak (BBM) di tengah keterbatasan anggaran. Kepala Seksi Damkar dan Penyelamatan BPBD Kulon Progo, Raden Chris Hartanto mengatakan, penanganan sarang tawon yang sebelumnya dapat dilakukan setiap hari kini dijadwalkan hanya dua kali dalam sepekan. “Kalau tawon, yang dulu hampir setiap malam atau setiap hari kami tangani, sekarang dengan kondisi saat ini kami batasi seminggu dua kali,” kata Chris saat ditemui, Minggu (14/6/2026).
Di BPBD Kulon Progo, ada tiga armada pemadam kebakaran, satu mobil tangki dan dua unit pikap yang beroperasi setiap hari untuk mendukung layanan kebencanaan dan penyelamatan. Menurut Chris, fluktuasi harga BBM nonsubsidi memberikan dampak cukup besar terhadap biaya operasional sehingga instansinya harus melakukan berbagai langkah efisiensi. Gunakan Metode Bakar Salah satunya dengan memetakan dan mengelompokkan laporan sarang tawon berdasarkan wilayah. Dengan cara itu, petugas dapat menangani beberapa lokasi sekaligus dalam satu perjalanan.
“Misalnya ada laporan di satu jalur yang sama, kami petakan dan kelompokkan terlebih dahulu. Jadi tidak berangkat hanya untuk satu lokasi. Dengan begitu penggunaan BBM bisa lebih hemat,” katanya. Berangkat Evakuasi Ular Pakai Motor Efisiensi juga diterapkan pada layanan evakuasi ular. Hampir setiap hari petugas menerima laporan ular yang masuk ke permukiman maupun rumah warga. Untuk menekan penggunaan BBM, petugas nantinya menggunakan sepeda motor saat menuju lokasi evakuasi.
Meski demikian, Chris menegaskan layanan yang bersifat darurat dan mengancam keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama. Ia memastikan penanganan kebakaran maupun evakuasi ular yang berpotensi membahayakan warga akan tetap dilakukan secepat mungkin. “Kalau penanganan ular, kami tetap harus efisien. Kalau bisa roda dua, kami pakai roda dua,” kata Chris.
“(Kasus ular) memang harus segera ditangani, petugas tetap langsung datang ke lokasi,” imbuhnya. Pembatasan Layanan Edukasi BPBD Kulon Progo juga melakukan efisiensi pada kegiatan lain, termasuk kunjungan edukasi siswa ke markas pemadam kebakaran. Jika sebelumnya petugas hampir melayani kunjungan sekolah secara terpisah setiap hari, kini beberapa sekolah digabung dalam satu sesi kegiatan. Layanan edukasi tersebut dibatasi menjadi sekitar dua kali dalam sepekan.
Meski harus melakukan penghematan, Chris memastikan layanan penanganan kebakaran tetap berjalan normal hingga akhir tahun.
“Untuk kebakaran dan layanan darurat lainnya insyaallah aman. Kami tetap berhati-hati dalam penggunaan BBM, tetapi pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas,” katanya.





