
“Amerika Serikat dan Israel, pada titik ini, memiliki tujuan strategis yang berbeda,” kata Eyre, dikutip Senin (13/7).
Menurutnya, Amerika Serikat saat ini lebih memilih membatasi kerugian akibat konflik yang berkepanjangan. Fokus utama mereka adalah menghindari keterlibatan lebih jauh dalam perang yang dinilai semakin sulit dikendalikan dan memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
“Amerika Serikat hanya ingin membatasi kerugiannya, membuka kembali jalur perdagangan, lalu menjauh karena situasi ini sudah menjadi kubangan masalah,” ujarnya.
Sebaliknya, Israel disebut masih memandang operasi militer belum selesai terhadap Iran. Tel Aviv dinilai ingin melanjutkan tekanan militer dan berharap sekutunya kembali ikut melakukan serangan terhadap musuh maupun kelompok Hezbollah.
“Israel berpikir ini adalah urusan yang belum selesai. Mereka ingin melanjutkan serangan, dan ingin sekutunya kembali melakukan serangan terhadap Iran dan Hezbollah,” katanya.
Perbedaan kepentingan tersebut menunjukkan bahwa kesamaan langkah kedua negara pada awal konflik mulai bergeser. Jika Washington kini lebih mengutamakan stabilitas jalur perdagangan internasional dan mengurangi keterlibatan militernya, pihak lainnya justru dinilai masih melihat peluang untuk melanjutkan operasi militer sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Menurut Eyre, kondisi tersebut membuat dinamika konflik dalam kawasan semakin sulit diprediksi, khususnya terkait dengan perang dari Iran dan Amerika.
“Situasinya sangat dinamis, dengan begitu banyak variabel yang sedang bermain,” ujar Eyre.
Perbedaan objektif antara dua sekutu utama tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah perkembangan konflik dalam beberapa waktu ke depan. Jika tidak ada kesepahaman mengenai strategi bersama, respons terhadap musuh bisa menjadi semakin kompleks, sekaligus membuka kemungkinan munculnya kebijakan yang berbeda antara Washington dan Tel Aviv.




