Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus mempertegas perannya sebagai rujukan praktik baik transformasi digital. Kali ini, sinergi diperkuat bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan fokus pada pengembangan digitalisasi pertanian sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas produksi, memastikan harga yang menguntungkan petani, serta mengendalikan inflasi daerah.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena beserta jajaran masing-masing di Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Pertemuan yang turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY dan NTT ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus penjajakan kerja sama konkret lintas daerah.
Sri Sultan menegaskan setiap kebijakan pembangunan merupakan proses berkelanjutan yang tidak lepas dari dinamika keberhasilan dan tantangan. Namun demikian, konsistensi dalam melakukan perbaikan menjadi kunci agar kebijakan yang diambil benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Dari proses itu kita belajar. Yang penting adalah keyakinan untuk terus menyempurnakan kebijakan agar manfaatnya bisa dirasakan secara luas,” ujar Sri Sultan.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan juga membuka ruang komunikasi yang luas dan fleksibel antara DIY dan NTT, tidak hanya pada level pimpinan daerah, tetapi hingga perangkat daerah kabupaten/kota. Menurutnya, keterbukaan komunikasi, baik secara langsung maupun daring, akan mempercepat pertukaran pengetahuan dan replikasi program unggulan.
Lebih lanjut, Sri Sultan menyoroti pentingnya fondasi infrastruktur digital dalam mendorong percepatan transformasi. Pemda DIY telah mengembangkan jaringan fiber optik yang mendukung digitalisasi lintas sektor, mulai dari pendidikan hingga pelayanan publik, yang kini diperluas ke sektor pertanian, transportasi, perpajakan, dan sektor strategis lainnya.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi atas berbagai inovasi digital yang telah diterapkan dengan baik di DIY. Ia menilai, platform seperti Dipanen.id menjadi contoh konkret bagaimana digitalisasi mampu menciptakan sistem perdagangan hasil pertanian yang transparan, efisien, dan menguntungkan petani, sekaligus berkontribusi dalam pengendalian inflasi daerah.
“DIY memberikan banyak pembelajaran berharga. Praktik digitalisasi yang sudah berjalan ini akan kami pelajari, adaptasi, dan implementasikan di NTT. Digitalisasi ini sangat membantu menjaga stabilitas produksi, memberikan kepastian harga bagi petani, serta menekan inflasi daerah. Kami juga siap memperkuat sinergi lintas daerah untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih terintegrasi,” ungkap Melki.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menambahkan digitalisasi menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus efisiensi rantai pasok. Melalui digitalisasi, proses transaksi pertanian menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel, serta mendorong penguatan kelembagaan petani menuju kemandirian dan daya saing global.
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan bahwa penguatan sektor pertanian di DIY juga didukung melalui program Lumbung Mataraman yang telah berkembang di berbagai wilayah kabupaten/kota. Program ini mengedepankan pemanfaatan lahan pekarangan berbasis masyarakat dengan komoditas bernilai ekonomi, serta melibatkan petani milenial sebagai motor penggerak.
Sinergi DIY–NTT ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mempercepat transformasi digital sektor pertanian secara inklusif dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang semakin erat, praktik baik dari DIY diharapkan dapat direplikasi di NTT, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Humas Pemda DIY




