Beranda / Nasional Dan Internasional / Drone FBI Diduga Diretas Hacker Iran, Piala Dunia 2026 Jadi Sasaran

Drone FBI Diduga Diretas Hacker Iran, Piala Dunia 2026 Jadi Sasaran

 

Washington,REDAKSI17.COM – Kelompok peretas yang diduga memiliki keterkaitan dengan Iran, Handala mengeklaim sukses membobol sistem drone milik Federal Bureau of Investigation (FBI) dan mengancam akan menargetkan ajang Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara, Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada.

Klaim tersebut diungkapkan kelompok pemantau aktivitas ekstremis dan siber, Search for International Terrorist Entities (SITE) Intelligence Group, pada Jumat (12/6/2026). Dalam laporannya, SITE mempublikasikan pernyataan dari kelompok peretas bernama Handala yang mengaku telah memperoleh akses ke sistem drone FBI selama berbulan-bulan.

Mengutip laporan Arab News, Sabtu (13/6/2026), Handala mengeklaim pihaknya memiliki akses terhadap data yang dikumpulkan oleh drone first-person view (FPV) yang digunakan FBI untuk menjalankan berbagai operasi keamanan.

Kelompok tersebut mengeklaim telah mengakses setiap gambar dan setiap tersangka yang direkam oleh drone-drone tersebut. Selain itu, Handala juga menyebut perangkat itu dilengkapi teknologi pengenalan wajah dan pemindaian pelat nomor kendaraan yang digunakan dalam operasi kontra-terorisme. Dalam pernyataannya, Handala turut melontarkan ancaman terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

“Lebih baik perketat keamanan Piala Dunia Anda, kami sama sekali tidak menyukai beberapa tim tersebut. Jangan lupa, FPV ada di mana-mana. Anda tidak pernah tahu kapan salah satunya mungkin berakhir tepat di bus tim Anda,” kata Handala dalam pernyataan yang dikutip oleh SITE.

Sebelum Piala Dunia 2026 resmi dimulai, FBI telah mengerahkan drone untuk membantu pengamanan di sekitar stadion dan area penyelenggaraan pertandingan. Otoritas AS juga telah menetapkan larangan penerbangan drone di atas stadion yang menjadi lokasi pertandingan maupun kawasan acara pendukung turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Piala Dunia tahun ini yang diselenggarakan bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada menjadi edisi terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Untuk mengantisipasi ancaman dari penggunaan drone ilegal, pemerintah federal AS mengalokasikan dana hibah sebesar US$ 500 juta untuk mendukung pelatihan aparat penegak hukum dalam menangani aktivitas drone yang tidak sah selama turnamen berlangsung.

Meski demikian, SITE meragukan sebagian klaim yang disampaikan Handala. Organisasi tersebut menyebut sejumlah materi yang dipublikasikan kelompok peretas itu tidak mendukung klaim peretasan terhadap drone FBI.

Menurut SITE, salah satu video dari dugaan peretasan tersebut sebenarnya diproduksi oleh platform perangkat lunak pada Desember 2024 untuk mempromosikan penggunaan teknologi pemanfaatan teknologi drone oleh Departemen Kepolisian AS untuk survei kerusakan akibat tornado.

Sebagai informasi, sebelumnya, pada Maret 2026, Handala juga mengeklaim telah meretas akun email Direktur FBI, Kash Patel, dan menyebarkan sejumlah foto pribadi serta dokumen lainnya ke internet. Pemerintah AS disebut masih terus memburu para anggota Handala. Departemen Luar Negeri AS bahkan menawarkan hadiah hingga US$ 10 juta bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi valid dan berguna membantu mengidentifikasi para anggota Handala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *