
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Warga Dusun Wonongso, Kelurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, dikejutkan dengan munculnya varietas pisang unik yang mampu menghasilkan hingga empat tandan buah dalam satu batang pohon. Tanaman milik seorang petani setempat bernama Pringadi ini kini menjadi sorotan karena selain keunikan fisiknya, varietas tersebut terbukti tahan terhadap serangan virus yang selama ini meresahkan petani pisang di wilayah tersebut.
Fenomena ini bermula sekitar 1,5 tahun yang lalu, tepatnya saat periode pemilihan presiden, ketika pohon pisang tersebut mulai menunjukkan keunikannya. Satu batang pohon pisang ini memiliki kemampuan untuk menumbuhkan anakan yang tumbuh kembar, yang kemudian saat dewasa menghasilkan jumlah tandan buah yang bervariasi mulai dari dua, tiga, hingga empat tandan sekaligus.
Menurut tinjauan di lapangan, fenomena ini dikategorikan sebagai bentuk mutasi genetika yang terjadi secara alami. Saat ini, budidaya pisang tersebut telah memasuki keturunan atau masa panen yang ketujuh kalinya, dengan karakteristik buah yang tetap konsisten.

“Bibit pisang ini awalnya berasal dari Sambirejo, yang merupakan hasil program KKN dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dusun Wonongso sendiri kala itu berfungsi sebagai daerah penyangga untuk program budidaya pisang tersebut.” ungkap Pirngadi.
Keunggulan utama dari varietas ini, selain kemampuannya berbuah banyak, adalah daya tahan yang luar biasa terhadap penyakit. Pringadi menjelaskan, di saat pohon pisang lain di sekitarnya habis terserang virus atau yang oleh warga lokal disebut sebagai penyakit “bombrong”, pisang milik Pringadi ini tetap tumbuh sehat. Bahkan, bibit ini tetap mampu bertahan meskipun ditanam di lahan bekas tanaman yang sebelumnya terjangkit virus.
“Secara fisik, pisang ini termasuk dalam jenis Ambon, namun memiliki perbedaan dengan Ambon Jawa pada umumnya.” ujar Pringadi.
Kulit buahnya cenderung berwarna agak kehijau-hijauan dengan rasa yang manis. Ukuran buahnya pun tergolong besar, di mana satu pohon yang dipanen pernah terjual dengan harga mencapai Rp130.000. Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, Pirngadi mengaku lebih sering mengonsumsi buah tersebut bersama keluarga dan membagikannya kepada tetangga sekitar.
Rencana Pengembangan sebagai Ikon Daerah
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan telah meninjau langsung lokasi kebun di Wonongso. Melihat potensi yang ada, pemerintah berencana untuk segera membudidayakan dan menangkarkan tanaman ini secara lebih luas.
“Mungkin kedepan kita bisa memberikan nama khusus untuk varietas ini agar dapat menjadi ikon baru bagi Kapanewon Ngawen, khususnya Kelurahan Tancep.” kata Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat meninjau langsung ke kebun didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Senin, (18/5/2026).
Hal ini diharapkan memperkuat posisi Kabupaten Gunungkidul sebagai pemasok utama kebutuhan pisang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kunjungannya, Bupati berpesan agar masyarakat tidak berhenti menanam demi ketahanan pangan mandiri.
“Makan apa yang kita tanam, dan tanam apa yang kita makan,” pungkas Bupati Endah.


