Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menggelar Festival Kethoprak Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026 sebagai upaya melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan daerah yang digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (7/6/2026).
Festival ini dibuka oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo yang di dampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Ia pun sangat mengapresiasi acara tersebut.
Menurutnya festival ini memiliki tujuan yang sangat strategis, yaitu memperkuat karakteristik kethoprak konvensional sebagai seni peran yang menitikberatkan pada kualitas keaktoran, meningkatkan kualitas pembinaan kethoprak, memperkuat identitas Kethoprak Mataram sebagai ekspresi budaya.
“Oleh karena itu, kami memandang bahwa festival ini bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang terbaik, tetapi merupakan ruang belajar bersama, ruang apresiasi, ruang regenerasi, dan ruang penguatan ekosistem seni tradisi yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Kota Yogyakarta Yogyakarta,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan festival ini dilaksanakan sebagai bagian dari program Gelar Budaya Jogja yang bertujuan mendorong lahirnya karya-karya kreatif para seniman Kota Yogyakarta.
“Melalui kegiatan tersebut, kami berharap seni tradisi, khususnya kethoprak, dapat terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini maupun masa mendatang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan Festival Kethoprak tahun ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga sarana penguatan ketahanan budaya masyarakat.
“Kethoprak dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis,” jelasnya.
Untuk itu, lanjutnya, kualitas pertunjukan menjadi perhatian utama agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Yetti membeberkan acara ini diikuti oleh 14 kemantren dan dibagi menjadi tujuh kontingen, yakni Kemantren Pakualaman-Mergangsan, Kraton-Mantrijeron, Gedongtengen-Gondomanan, Danurejan-Gondokusuman, Wirobrajan-Ngampilan, Tegalrejo-Jetis, serta Kotagede-Umbulharjo. Setiap kontingen diberikan kesempatan tampil dengan durasi maksimal 45 menit sesuai jadwal dan hasil pengundian yang telah ditetapkan panitia.
“Tema besarnya adalah “Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti”. Tema tersebut mengajak peserta mengeksplorasi berbagai peristiwa sejarah yang terjadi setelah Perjanjian Giyanti hingga sebelum Geger Sepehi, termasuk kehidupan dan peradaban Mataram pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga Sri Sultan Hamengkubuwono II serta kisah Babat Alas Pabringan,” jelasnya.
Untuk penilaiannya meliputi keaktoran yang menjadi fokus utama penilaian, harmoni pertunjukan, kekuatan dramatik, kreativitas, serta kualitas iringan.
Nantinya para peserta di pilih tiga terbaik. Juara I akan menerima plakat dan uang pembinaan sebesar Rp5 juta, Juara II memperoleh Rp4,5 juta, dan Juara III mendapatkan Rp4 juta.
“Melalui kompetisi ini diharapkan upaya pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan seni kethoprak dapat berlangsung lebih terstruktur dan terukur,” katanya.